MAKALAH : “FLEXYBACTER COLUMNARIS”

  1. PENDAHULUAN

 1.1  Latar Belakang

Menurut Akinyemi et al., (2011), Ikan digunakan terutama sebagai sumber protein dalam diet. Ikan juga sering terinfeksi bakteri yang beragam sehingga dapat menyebabkan bahaya bagi kesehatan ikan ataupun manusia,jadi perlu adanya penangan ikan yang benar sampai ke konsumen akhir. Adanya hubungan yang tinggi antara pathogen dengan manusia sangat potensial  terjadi di  ikan air tawar menunjukkan bahwa jika ikan ditangani dengan atau jika dikonsumsi bawah dimasak atau mentah mereka dapat menyebabkan berbagai penyakit yang rentan individual. Oleh karena itu, kebutuhan untuk mengetahui pentingnya kesehatan masyarakat dari bakteri muncul.

Menurut Kismiyati et al., (2009), usaha perikanan di Indonesia saat ini telah berkembang dengan pesat terutama dalam bidang budidaya, baik sektor ikan hias maupun ikan konsumsi. Timbulnya serangan penyakit merupakan hasil interaksi yang tidak seimbang antara lingkungan, kondisi inang (ikan) dan pathogen (penyakit). Interaksi yang tidak seimbang ini menyebabkan stres pada ikan, sehingga mekanisme pertahanan tubuh menjadi lemah dan akhirnya mudah diserang penyakit

Lingkungan perairan, khususnya perairan budidaya dan eutrophik,menyediakan habitat alami bagi pertumbuhan dan proliferasi bakteri karena tersedianya nutrien-memproduksi bahan organik yang meningkatkan pertumbuhan bakteri. Beberapa bakteri akan tumbuh dan berkembang pesat jika terdapat bahan organik sebagai sumber nutrien, sementara yang lainnya lebih bersifat memilih makanannya dan mampu bertahan hidup dilingkungan dengan cara menempel diinangnya. Selain itu juga, salinitas air, atau media kultur, berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan beberapa bakteri. Flexibacter columnaris merupakan bakteri yang banyak ditemukan menyerang ikan channel catfish ( Ictalurus punctatus). Columnaris termasuk infeksi kulit akut hingga kronis yang menyerang ikan, khususnya chanell catfish. Sinonim dari columnaris termasuk  cotton wool dan mouth fungus.

Faktor-faktor yang menunjang berkembangnya penyakit adalah kualitas air kolam yang buruk, kandungan bahan organic yang tinggi di dalam air kolam, perubahan musim kering (kemarau) ke musim hujan, pakan yang tidak cukup dan kualitasnya jelek dan adanya infeksi oleh parasit.

Menurut Irianto (2005), sebagian bakteri bersifat pathogen oportunistik. Pada keadaan biasa bakteri tersebut ada pada lingkungan perairan atau tubuh ikan tanpa menimbulkan penyakit, tetapi akan menimbulkan penyakit bahkan kematian manakala terjadi stress atau daya tahan tubuh ikan menurun. Contoh bakteri oportunis tersebut antara lain : Vibrio, Pseudomonas dan Flexibacter.

 1.2  Tujuan

Penulisan makalah ini bertujuan agar pembaca mengetahui tentang penyakit Columnaris yang disebabkan oleh bakteri Flexibacter columnaris serta dapat mencegah yang disebabkan bakteri tersebut.

2. PEMBAHASAN

 2.1  Pengertian

Menurut Bernardet (1989), Penyakit ‘Columnaris’, yang disebabkan oleh bakteri patogen ‘Flexibacter columnaris’, adalah penyakit yang banyak menyerang ikan air tawar dan memiliki distribusi di seluruh dunia. Strain virulensi rendah bakteri patogen untuk menjadi salmonids pada suhu air melebihi 20 ° C, sedangkan strain virulensi tinggi mungkin patogen pada suhu di atas 15 ° C. Tingkat mortalitas berkisar dari ca 10 sampai 100% tergantung pada suhu air.

2.2  Morfologi

Menurut Nofiani dan Gusrizal (2004), bakteri gram negatif lebih resisten terhadap obat-obatan dibandingkan dengan bakteri gram positip. Karena bakteri gram negatif mempunyai sistem efflux aktif untuk obat-obatan, yaitu multidrug, multication, atau nodulation signal efflux complexes. Kemungkinan lain adalah adanya gen resisten tetracyclin yang terdapat di dalam sel. Gen ini masuk ke dalam sel bersamaan dengan mer operon.

Menurut Purwani et al., (2009), mikroba gram negatif  mempunyai ketahanan yang lebih baik terhadap senyawa antimikroba. Mikroba gram negatif memiliki sistem seleksi terhadap zat-zat asing yaitu pada lapisan lipopolisakarida. Struktur dinding sel mikroba gram negatif relatif lebih kompleks, berlapis tiga yaitu lapisan luar yang berupa lipoprotein, lapisan tengah yang berupa lipopolisakarida dan lapisan dalam berupa peptidoglikan.

2.3  Gejala Klinis

Menurut Bernardet (1989), tanda-tanda klinis dan lesi biasanya terbatas pada permukaan tubuh dan mengambil bentuk erosi sln dan nekrosis insang. Lesi karakteristik ‘saddleback’ dapat ditemukan dalam kasus maju di lele. Infeksi sistemik dapat terjadi pada kasus yang berat, tergantung pada virulensi dari strain. Di Perancis, bakteri meluncur biasanya diisolasi dari lesi eksternal ikan yang sakit. Klasifikasi saat ini kelompok organisme membuat identifikasi yang akurat sulit, di terbaik. Selain itu, Flexjbacter columnaris pernah diidentifikasi di Perancis.

Menurut Irianto (2005), gejala-gejala klinis antara lain terjadinya peradangan kulit disertai dengan bintik-bintik putih kecil pada sirip ekor dan selanjutnya meluas ke arah kepala. Sirip ekor dan sirip anal dapat mengalami erosi berat dan kulit akan mengalami borok-borok bewarna putih keruh atau kelabu. Pada umumnya insang mengalami kerusakan yang ditandai dengan nekrosis pada ujung distal lamella insang dan dapat meluas kesuluruh lamellae insang.

 2.4  Penyebab Munculnya Penyakit

Menurut Irianto (2005), infeksi F. colimnaris seringkali terkait dengan kondisi stress yang umumnya ditimbulkan oleh suhu air tinggi (25-32oC), padat tebaran tinggi, luka dan kualitas air buruk (kandungan oksigen rendah dan peningkatan ammonia bebas).

Menurut Kismiyati et al., (2009) faktor yang menyebabkan timbulnya penyakit antara lain disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan virus. Sementara faktor kualitas air yang buruk, pakan, oksigen menurun dapat mempengaruhi adanya penyakit.

3. PENUTUP

 3.1 Kesimpulan

  •  Usaha perikanan di Indonesia saat ini telah berkembang dengan pesat terutama dalam bidang budidaya, baik sektor ikan hias maupun ikan konsumsi. Timbulnya serangan penyakit merupakan hasil interaksi yang tidak seimbang antara lingkungan, kondisi inang (ikan) dan pathogen (penyakit).
  •  Faktor-faktor yang menunjang berkembangnya penyakit adalah kualitas air kolam yang buruk, kandungan bahan organic yang tinggi di dalam air kolam, perubahan musim kering (kemarau) ke musim hujan, pakan yang tidak cukup dan kualitasnya jelek dan adanya infeksi oleh parasit.
  •  Penyakit ‘Columnaris’, yang disebabkan oleh bakteri patogen ‘Flexibacter columnaris’, adalah penyakit yang banyak menyerang ikan air tawar dan memiliki distribusi di seluruh dunia. Strain virulensi rendah bakteri patogen untuk menjadi salmonids pada suhu air melebihi 20 ° C, sedangkan strain virulensi tinggi mungkin patogen pada suhu di atas 15 ° C. Tingkat mortalitas berkisar dari ca 10 sampai 100% tergantung pada suhu air.
  •  Mikroba gram negatif  mempunyai ketahanan yang lebih baik terhadap senyawa antimikroba. Mikroba gram negatif memiliki sistem seleksi terhadap zat-zat asing yaitu pada lapisan lipopolisakarida. Struktur dinding sel mikroba gram negatif relatif lebih kompleks, berlapis tiga yaitu lapisan luar yang berupa lipoprotein, lapisan tengah yang berupa lipopolisakarida dan lapisan dalam berupa peptidoglikan.
  •  Gejala-gejala klinis antara lain terjadinya peradangan kulit disertai dengan bintik-bintik putih kecil pada sirip ekor dan selanjutnya meluas ke arah kepala. Sirip ekor dan sirip anal dapat mengalami erosi berat dan kulit akan mengalami borok-borok bewarna putih keruh atau kelabu. Pada umumnya insang mengalami kerusakan yang ditandai dengan nekrosis pada ujung distal lamella insang dan dapat meluas kesuluruh lamellae insang.
  •  Infeksi F. colimnaris seringkali terkait dengan kondisi stress yang umumnya ditimbulkan oleh suhu air tinggi (25-32oC), padat tebaran tinggi, luka dan kualitas air buruk (kandungan oksigen rendah dan peningkatan ammonia bebas).

 3.2  Saran

  Dalam usaha budidaya untuk menghindari serangan pathogen bakteri F.columnaris maka pembudidaya harus mengetahui dan memahami tentang bakteri tersebut, terlebih suhu.


DAFTAR PUSTAKA

 Akinyemi, A dan Olufemi Paul F. 2011. Antibiotics Sensitivity and Occurrence of Bacteria Originated from Skin, Gill and Buccal Cavity of Chrysicthys nigrodigitatus, Distichodus engycephalus and Synodontis schall Sampled in Arakanga Reservoir, Abeokuta, Ogun State, Nigeria. Journal of FisheriesSciences. Vol 5 No 2 : 164-171.

 Bernardet, J.F. 1989. ‘Flexibacter columnaris’: first description in France and comparison with bacterial strains from othser origins. Diseases of Aquatic Organisms. Vol 6 : 37-44.

 Kismiyati, Sri Subekti, R. Wahid Nur Yusuf dan Rahayu Kusdarwati . 2009. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Gram Negatif pada Luka Ikan Maskoki (Carassius auratus0 akibat Infestasi Ektoparasit Argulus sp.  Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 1 No. 2.

Irianto, A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gadjah Mada University Press.

 Nofiani, R dan Gusrizal. 2004. Bakteri Resisten Merkuri Spektrum Sempit dari Daerah Bekas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Mandor, Kalimantan Barat. Jurnal Natur Indonesia. Vol 6 No 2 : 67-74.

Purwani, E, Setyo Wulang Nur Hapsari dan Rusdin Rauf. 2009. Respon Hambatan Bakteri Gram Positif dan Negatif pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang Diawetkan dengan Ekstrak Jahe (Zingiber officinale). Jurnal Kesehatan ISSN 1979-7621.  Vol. 2 No 1 halaman 61-70.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s