Laporan Dasar-dasar Aquaculture

  1. PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Istilah budidaya perairan menunjukkan keadaan yang diinginkan dalam menghadapi periknan laut diasa yang akan datang. Kita menghadpi kebutuhan untuk mengembangkan perikanan laut dan meningkatkan hasil tangkap dengan peraturan internasional yang tel ditentukan. Dalam hubungan ini istilah budidaya perikanan merupakan usaha pengolahan sumber-sumber perikanan yang paling rasional dilakukan secara buatan atau arti fusial  dan tidak bergantung pada metode tradisional. Berdasarkan perbedaan diatas, budidaya perairan merupakan suatu proses yang dapat diuraikan sebagai berikut. Didalam bidang pembenihan besar-besaran terhadap beebrapa organisme laut/air. Sesudah itu benih ikan dibiakkan dibawah pengawasan pengelola ( Handayani dan Hastuti, 2001).

Pada abad 21 Food and Agriculture Organization (FAO) menyatakan bahwa perikanan budidaya (akuakultur) menjadi salah satu sektor andalan untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani dan penciptaan lapangan kerja (BDP,2011).

1.2  Maksud dan Tujuan

Maksud diadakannya praktikum dasar-dasar akuakultur ini adalah mengetahui secara mendalam mengenai dasar-dasar akuakultur, dan memberikan gambaran tentang prinsip dasar akuakultur.

Tujuan diadakannya praktikum dasar-dasar akuakultur ini adalah untuk mengaplikasikan materi yang diperolaeh pada saat mata kuliahh dasar-dasar akuakultur berlangsung di lungkungan, menerapakan prinsip dasar akuakultur, mempelajari survivel rate,, grow rate, dan food converition rate dari organisme yang dibudidayakan, dan untuk mengetahui kualitas air yang ada pada media budidaya.

1.3  Waktu dan Tempat

Praktikum dasar-dasar akuakultur dilaksanakan tanggal 09 April 2011 bertempat di laboratorium stasiun percobaan budidaya ikan air tawar, Sumber Pasir, Malang.

  1. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Akuakultur

2.1.1 Pengertian Akuakultur

Budidaya air (akuakultur) adalah istilah yang umu di gunakan untuk pemeliharaan organisme air. Istilah-istilah sinonimnya adalah bertani ikan (fish farring), dan budidaya ikan (fish culture).Sekarang istilah budidaya air lebih luas lagi pemakaiannya yaitu, budidaya ikan dan invertebrata air serta rumput laut (sea wead) (Brotowidjoyo.et.al, 1999).

Budidaya mempunyai peran yang dapat, memperkuat kompensasi perikanan. Dengan budidaya, dapat meningkatkan sektor perikanan dan memperluas perikanan, bukan dari penangkapan ikan(Baird, 1996).

2.1.2 Persiapan Kolam

A. Pengolahan Tanah

Tanah dengan kandungan pasir yang banyak (lebih darii 70%) terutama yang berbatu tidak cocok untuk di buat kolam karena tidak biasa menahan air dan sulit dibentuk.Jenis tanh yang demikian masih memungkinkan apabila keseluruhannya di beton atau di tembok (Susanto, 2009).

Pengolahan tanah dasar terdiri dari pencangkulan dan perataan.Setelah itu, dinding kolam diperkeras untuk mencegah kebocoran dan tenggul yang rusak di perbaiki.Pembuatan kamalis sebagai tempat berlindung ikan atau benih sekaligus mempermudah pemanenan (Khairuman, 2008).

B. Penguapan

Menurut Willkinson (2002), penambahan bahan pengapuran untuk meningkatkan alkalinitas total. Kolam memiliki efek yang di inginkan meningkatkan kapasitas buffering dan pH stabiliti 1,7. Bahan pengpuran mengandung kalsium atau kalium dan megnesium dalam kombinasi dengan yang mampu menetralisir radikal amonik.Bahan pengapuran umum meliputi pertanian batu kapur dan cair kapur, kalsium hidroksida, kalsium oksida dan dasar terak.

Penguapan bertujuan untuk  memberantas bibit hama, penyakit serta memperbaiki kualitas dan menaikkan pH tanah. Dosis kapur yang di berikan sebanyak 20-200 gram/m2, tergantung pada pH awal tanah (Khairuman, 2008).

C. Pemupukan

Pakan alami merupakan pakan terbaik bagi pertumbuhan ikan, baik itu bagi larva ikan maupun ikan dewasa.Pakan alami pada dasarnya sudah terdapat dalam air kolam.Namun agar jumlahnya melimpah perlu di lakukan pemupukan kolam.Pemupukan kolam dapt enggunakan pupuk organik maupun anorganik.Pada pupuk organik yang biasa di gunakan adalah area dan TSP (Santoso, 1993).

Banyak dari petani ikan di Indonesia bagaimana sebenarnya pemupukan yang baik dan efektif dan efisien. Padahal jika kita melakukannya dengan benar, pemupukan merupakan salah satu cara membuat pakan alami yang sangat dibutuhakan oleh benih ikan kapanpun dan apapun. Pemupukan kolam dilakukan hanya apabila kolam yang bersumber pada air dalm kondisi tidak subur. Untuk iakn yang sudah subur, pemupukan tidak perlu karena pakan alami akan tumbuh sendiri (Infoagrobisnis, 2009).

2.1.3 Kegiatan Budidaya

Menurut Afrianto dan Evi (1988), secara singkat budidaya ikan itu dapat digambarkan sebagai berikut

Makanan

Fdddd

Dsdssssss

Hasil buangan

Benih ikan

Metode budidaya

Ikan yang di pasarkan

Dalam gambar di atas dapat di lihat, bahwa dengan metode budidaya tertentu, benih ikan yang di tebarkan dalam kolam dan di beri makanan akan tumbuh, di panen dan siap untuk di pasarkan di berikan dapat berupa makanan buatan yang di susun dengan komposisi tertentu atau makan alamiah yang dapat di produksi oleh kolam itu sendiri dengan pemupukan.

Dua pendekatan utama untuk identifikasi adalah meningakatkan stok dan perbaikan ekosistem. Pada awal stoking dan peningkatan teknik harus mendukung nelayan rekreasional dan nelayan tangkap, dengan identifikasi yang lebih lanjut, persediaan air di atur sama dengan sistem budidaya intensif. Pada tahap terakhir terdapat pengenalan sistem budidaya intensif seperti keramba atau kolam tertutup yang di atur melalui kombinasi dari stoking, perbaikan ekosistem, dan pemupukan, yang mungkin ada dengan lebih banyak aktifitas tangakap tradisional lainnya.Paa budidaya intensif, ada sedikit halangan untuk menukarkan spesies dengan lingkungan luarnya.Implikasinya, interaksi antar spesies menjadi meningkat dua kali lipat. Pertama menghilangkan organisme secara umum yang terdiri dai stok yang sama di sekitarnya, mengakibatkan pengaruh lingkungan di sekitar menjadi sedikit walau penularan penyakit akan menjadi masalah yang berpotensi. Kedua, karena interaksi yang dekat antara lingkungan akuakultur dan air yang berkualitas, akan menimbulkan kejanggalan, cepat atau lambat harus ditemukan cara untuk budidaya lingkungan. Pengaruh hal lain akan bergantung pada pandangan petani (Muir et.al, 1996).

2.1.4 Macam- macam budidaya

Menurut Kanisius (2002), polikultur adalah suatu system (cara) pemeliharaan beberapa jenis ikan dalam suatu unit atau petakan yang sama. Kesulitan pemeliharaan secara polikultur adalah pelaksanaan penangkapan hasil panen harus dilaksanakan secara manual.Dari segi ekonomis, polikultur lebih menguntungkan, sebab pemanfaatan waktu, lahan, dan penggunanan pakan lebih efisien.Kesulitan yang sering terjadi dalam system polikultur bila terjadigangguan (serangan) penyakit, baik terhadap salah satu ataupun jenis keduanaya. Setiap jenis ikan mempunyai kelemahannya sendiri, jadi meskipun dalam satu kolam, tidak selalu sama gangguannya.

Monokultur adalah system pemeliharaan dimana didalam suatu kolam hanya ada satu species saja yang dipelihara. Pemeliharaan secara monokultur ini banyak dilakukan ikan di Malaysia, Filipina, atau Taiwan (Avrianto dalam Liviawati, 1992).

2.1.5 Dosis Kapur

Dosis kapur yang akan ditebarkan harus tepat ukuranya karena jika berlebihan akan menyeababkan kolam tiak subur, sedangkan bila kekurangan menyebabkan kolam menjadi masam. Sebagai acuan dlam memberikan kapur pada kolam budidaya ikan paa tahap awal.Tetapi jika ada juga para petani menggunakan dosis kapur berkisar antara 100-200 gr/m2, hal ini dilakukan bergantung pada keasaman tanah kolam (Alfiansyah, 2011).

Jenis kapur yang umum digunakan yaitu kapur tohor (CaCO3), kapur yang biasa digunakan sebagai pencampuran bahan bangunan. Kapur ini dapart diperoleh di took bahan bangunan. Jumlah kapur yang harus disediakan tergantung dari kebutuhan kolam yang luasnya 1000 m2 membutuhkan rata-rata 20-50 kg kapur (Nirhono, 2009).

2.1.6 Dosis Pupuk

Menurut Alfiansyah (2011), jenis pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk kandang dn pupuk buatan. Dosis pupuk kandang juga bergantung pada kesuburan kolam tersebut., biasanya berkisar antara 100-500 gr/m2 sedangkan untuk kolam budidaya yang kurang kesuburannya, dapat ditebarakn sebanyak 300-500 gr/m2. Dosis yang digunakan untuk pupuk buatan biasanya berkisar antara 200-300 gr/m2. Kolam dapat jiga dipupuk menggunakan TSP fan urea masing-masing sebanyak 10 gr/m2.

Pada pemupukan dasar yang ditumbuhkan terutama adalah klekap (lumut dasar). Jenis dan dosis pupuk yang diperlukan dalam setiap hektar adalah : pupuk kandang dicampur dengan dedak halus dengan dosis 1-2 ton/ha, kemudian disebar merata ke dasar tambak. Selanjutnya campuran pupuk urea 100-150 kg/ha dan SP36 sebanyak 50-75 kg/ha, juga disebar merata keseluruh permukaan tambak.Masukkan air kedalam tambak sampai mencapai ketinggian 10-20 cm dengan menggunakan saringan dan biarkan menguap selama 2 minggu.Bila keadaan air dipermukaan telah menjadi jernih sedang dasar tambak telah tampak hijau ditumbuhi klekap, maka air didalam tambak ditambah secara bertahap sampai mencapai kedalaman 60-100 cm. Jika keadaan air sudah cukup stabil, maka petakan siap untuk ditebari (Litbang, 2011).

2.1.7    Tanah yang baik untuk budidaya

Menurut Aminasti (2011), Jenis tanah yang baik untuk membuat kolam ikan adalah :

  1. Tanah liat atau lempung yang sedikit berpasir (sandy loom), tanah liat ini berkadar liat 35-55% biasanya bersifat hidup dan mudah dibentuk
  2. Tanah lempung liat berpasir, terapan atau beranjang dengan kadar liat sekitar 20-35%. Kedua tanah ini sangat kuat untuk menahan air, sehingga cocok untuk pembuatan kolam budidaya ikan.
  3. Tanah lempung berpasir yang berfraksi kasar dengan kadar liat hanya sekitar 30%. Jenis tanah ini awalnya memang sangat sulit untuk menahan air. Namun lama-kelamaan dengan pengolahan tanah yang baik dan terus menerus, ditambah adanya sedimen atau endapan tanah yang terbawa air sungai maka akan timbul daya tahan akan air.

Menurut Suyanto (2003) dalam Abdilahusen (2011),tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
2.1.8 Perbedaan Kapur Peranian dan Perikanan

Kapur pertanian adalah kapur yang berasal dari batuan yang bayak dijumoai di Indonesia.Bahan kapur ini banyak mengandung kalsium dan magnesium yang sifatnya mampu menetrralkan aluminium.Dipasaran dapat dijumpai 3 macam kapur diantaranya kapur tohor, kapur tembok dan kapur karbonat (Yusuf, 2009).

Menurut Alfiansyah (2011), jenis kapur yang digunakan untuk pengapuran kolam ada beberapa ,aca, diantaranya kapur pertanian yaitu kapur lkarbonat : CaCO3 atau (CaMg (CO3)2) atau tohor atau aktif (CaO). Kapur prtanian yang biasa digunakan adalah kapur karbonat yaitu kapur yang bahanya dari batuan kapur tanpa lewat proses pembakaran tanpa langsung digiling.

2.2 Kualitas air

2.2.1 Pengertian kualitas air

Menurut Jangkaru (2005), air merupakan salah satu sumber daya alam yang penting dan mendasar. Air sangant berguna bagi semua makhluk hidup seperti ikan. Mutu atau kualitas air bagi ikan erat hubungannya dengan fungsinya dalm proses kehidupan dan pertumbuhan ikan. Kualitas air menyebabkan gangguan pada ikan, juga bisa di sebabkan oleh gas rawa, amonia, asam belerang, pestisida dan lain-lain. Sebelum masuk ke dalam kolam, air harus melalui bak pengendapan dan bak filter, serta abrasi untuk menjaga kualitas air agar tetap baik.

Dalam arti luas kualitas air di tentukan oleh berbagai variabel biologis, fisik dan kimia yang mempengaruhi penggunaan air. Dalam budidaya ikan, kualitas air biasanya di definisikan sebagai kesesuaian air untuk kelangsungan hidup dan pertumbuan ikan.Kebanyakan pembudidaya menyadari variabel-variabel ini bekenaan dengan hubungan antara mereka dengan produksi ikan (Boyd, 1982).

Monitoring kualitas air merupakan salah satu langkah pertama yang di lakukan dalam pengembangan rasional dan pengolahan sumberdaya air. Di bidang pengolahan kualitas air, telah terjadi evolusi tetap dalam prosedur untuk merancang sistem guna mendapatkan informasi tentang perubahan kualitas air dalam lingkungan. Kualitas air skala pemantapan juga terkait dengan jenis air yang di gunakan dan macam-macam fungsi serta sifat dari sumber air seperti air permukaan, air laut (Zwart et.al, 1994).

2.2.2  Parameter kualitas air

A. Oksigen terlarut

Oksigen terlarut adalah oksigen dalam bentuk terlarut di dalam air karena ikann tidak dapat mengambil oksigen dalam perairan dan difusi dengan udara.Satuan pengukuran oksigen telarut adalah mg/l yang berarti jumlah mg/l gas oksigen yang terlart dalam air atau dalam satuan internasional di nyatakan ppm (part per milion).Air mengandung oksigen dalam jumla terlarut, tergantung dari kondisi air itu sendiri (Amri, 2009).

Salah satu indikator kesuburan perairan adalah oksigen terlarut. Oksigen di manfaatak oleh organisme perairan untuk proses respirasi. Kadar oksigen terlarut semakin menurun seiiring dengan semakin meningkatnya limbah organik di perairan tersebut. Oksigen terlarut dalam perairan berasal dari difusi udara dan hasil fotosintesis organisme berklorofil yang hidup dalam suatu perairan dan di butuhkan oleh organisme untuk mengoksidasi zat hara yang masuk ke dalam tubuhnya (Nybakken, 1988 dalam Simanjuntak,2010).

B. Karbohirat

Karbohidrat (CO2) yang terkandung dalam air berasal dari udara dan dekomposisi zat organik. Penyimpanan terhadap standart konsentrasi maksimal CO2 agresif dalamm air akan menyebabkan terjadinya korosi pada pipa-pipa logam dan menyebabkan efek toksikologis (Anyani, 2003 dalam Desiandi et,al, 2009).

Menurut Wawan (2009) karbondioksida aadalah sejenis senyawa kimia yang terdiri dua atom karbon rata-rata konsentrasi karbondioksida di atmosfer bumi kira-kira 387 ppm berdasarkan volume walaupun jumlah ini bisa bervariasi tergantung pada lokasi dan waktu. Karbondioksida diatmosfer bumi dihasilkan oleh senyawa hewan, tumbuh-tumbuhan, fungi dan mikroorganisme pada proses respirasi dan di gunakan oleh tumbuhan pada proses fotosintesis. Oleh karena itu, karbondioksida merupakan komponen penting dalam siklus karbon.

C. Derajat Keasaman

PH atau derajat keasaman digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman dan kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan.Yang di maksud “keasaman” disisni adalah konsentrasi ion hidrogen (H+) dalam pelarut air.Nilai pH berkisar dari 0 sampai 14. Suatu larutan dikatakan netral apabila memiliki pH=7. Nilai pHlebih dari 7 menunjukkan larutan memiliki nilai basa sedangkan nilai pH kurang dari 7 menunjukkan keasaman (Kompasiano, 2010).

Air murni (H2O) berasosiasi sempurna sehingga memiliki ion OH+dan  OH dalam konsentrasi yang sama. Dan dalam keadaan demikian pH air murni=7 semakin tinggi  konsentrasi ion H+ akan semakin rendan ion OHdan pH_nya ± 7. Maka perairan bersifat basa  atau alkalis. Perairan umum trmasuk air laut dengan segala aktivitas fotosintesis dan respirasi organisme yang hidup didalamnya membentuk reaksi berantai karbonat-karbonat sebagai berikut CO2+H2O            H2CO3 H++HCO3          2H+CO62­- (Dostoc, 1991).

D. Alkalinitas

Konsentrasi total yang ada diperairan ditunjukkann dengan adanya kalsium yang disebut alkalinitas total. Bikarbonat, karbonat, amoniak, hidroksida, fosfat, silikat, dan beberapa asam arganik dapat bereaksi untuk menetraisir ion-ion hidrogen. Jadi substansi-substansi itu semua dapat mempengaruhi dan menambah alkalinitas dalam air (Andayani, 2005).

Secara normal air alami mengandung lebih banyak bikarbonat dari pada hasil dari ionisasi asam karbon dalam air yang alami bereaksi dengan basa-basa dalam batuandan tanah menjadi karbonat sebagai gambaran untuk kalsium karbonat diperairan (Boyd,1982).

Alkalinitas adalah gambaran kapasitas air untuk menetralkan asam atau kuantitas anion didalam air yang dapat menetralkan kation hidrogen.Alkalinitas juga diartikan sebagai kapasitas penyangga terhadap perubahan pH perairan (Yulfiperius, et.al, 2004).

E. Kecerahan

Kecerahan air tambak merupakan tingkat penetrasi cahaya matahari didalam air tambak yang dinyatakan dengan satuan panjang.Alat yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat kecerahan air tambak adalah secchidisk, yaitu berupa piringanyang diberi warna hitam putih dan dihubungkan dengan tongkat atau tali pegangan yang mempunyai garis-garis skala (Marindro, 2011).

Kecerahan perairan dipengaruhi oleh bahan-bahan halus yang melayang dalam air baik berupa bahan organik seperti plankton, jasad renik, detritus maupun berupa bahan anorganik seperti partikel lumpur dan pasir (Raharjo, 2003).

F. Suhu

Menurut Moncrief dan Jones (1997) dalam Andayani (2005), tingkat proses reaksi biokimia tergantung pada suhu. Suhu normal terjadi pada habitat alami dari spesies, tingkat proses reaksi biokimia dihubungkan dengan suhu pada hukum Van Hoff’s, yang menyatakan bahwa setiap 10°C mnaikkan suhu kira-kira dua kali lipat reaksi.

Apabila selama masa perkembangan embrio ikan berada pada suhu yang lebih rendah dari suhu optimumnya dan terus berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya dapat merangsang jumlah vertebrat berkembang menjadi maksimum dalam variasinya (Budiharjo, 2001).

G. Asam Belerang

Menurut Andayani (2005), pada kondisi anaerob dilapisan hipolimnion, bakteri heterotrof akan menggunakan sulfat dan sulfur organik teroksidasi sebagai penerima elektron dalam metabolime dan menguraikan sulfida sebagai berikut

SO42-+8H+         S2-+4H2(1)

Sulfida dihasilkan dari proses ionisasi hidrogen sulfida (H25) dan terjadi reaksi kesetimbangan antara H5dan S2

H2S ↔HS+H+(2)

HS–  ↔S2-+H+(3)

Persamaan untuk kesetimbangan sebagai berikut :

[HS] [H+] / [H2S] Kt=10-7,01(4)

[S2] [H+] / [HS] K2=10-13,89(5)

pH menentukan sulfur, antara jenis sulfur (H2S,HS,S2-), hidrogen sulfida yang tidak terionisasi adalah racun bagi ikan, namun ion sulfur yang dihasilkan dan hasil penguraian tidak berbahaya.

pH secara jelas mengatur distribusi dari total sulfur yang tersisa dalam spesies. Hidrogen sulfida yang tidak terionisasi adalah racun untuk ikan, akan tetapi ion hasil pengurainya tidak bersifat racun (Boyd, 1982).

Menurut Dwijoseputro (2005). Asam belerang ialah suatu asam anorganik. Terjadinya asam ini dapat dituliskan sebagai berikut

2H2S+O2    ↔2H2O+2S,  2S+2H2O+3O2    ↔         2H2SO4

Proses seperti yang dituliskan diatas ini dapat dilakukan dengan jalan kemosintetik maupun dengan jalan fotosintetik oleh bakteri didalam tanah yang banyak mengandung hidrogen sulfida atau didalam tanah yang diberi belerang.

H. Amonia

Hasil penguraian protein dan senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen itu dapat berupa amoniak. Proses ini dapat terjadi menurut tiga cara, yaitu dengan jalan deaminasi dengan pertolongan enam orase, atau dengan mereduksi nitrat (Dwidjoseptro, 2005).

Konsentrasi amonia yang tinggi di air juga mempengaruhi permeabilitas ikan oleh air dan mengurai konsentrasi ion internal.Amonia juga meningkatkan konsumsi oksigen untuk mentransporkan oksigen. Perubahan histologi terjadi di ginjal, limpa, thyroid, dan darah ikan yang diakibatkan konsentrasi amonia(Andayani, 2003).

Tanaman secara cepat menyerap amonia, bakteri tertentu mengoksidasi amonia menjadi nitrat, dan amonia mungkin hilang selama jalur lain. Bagaimanapun juga, dalam kolam dimana densitas tinggi dengan diberi pakan suplemental, konsentrasi amonia mungkin meningkat ke level yang lebih tinggi yang tidak diharapkan (Boyd,1982).

  1. Salinitas

Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Kandungan garam pada sebagian besaar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air ini secara definisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikatagorikan sebagai air payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%, lebih dari 5% disebit brine (Kuliah itu keren, 2011).

Salinitas didefinisikan sebagai jumlah garam dalam gram yang terkandung dalam suat kilogram air laut dimana iodin dann bromin digantikan nilainya oleh klorin. Semua karbonat diubah menjadi oksida dan semua bahan organik teroksidasi dengan sempurna, salinitas akan mempengruhi densitas, maka tekanan osmotik air akan semakin tinggi pula (Andhika, 2009).

J. kesadahan

Kesadahan merupakan petunjuk kemampuan air untuk membentuk basa apabila dicampur dengan sabun. Pada air berkesadahan tinggi tidak akan terbentuk busa. Disamping itu, kesadahan juga merupakan petunjuk yang penting dalam hubungannya dengan usaha memanipulasi nilai pH. Kesahan dibagi menjadi dua tipe, yaitu: kesadahan umum (general hardness) dan kesadahan karbonat (carbonate hardness) (Arifin, 2008).

Total kesadahn menunjukkan pada konsentrasi ion logam divalen dalam air, dinyatakan sebagai miligram/liter dengan kalsium karbonat total kesadahan terkait dengan total alkalinitas karena dari alkalinitas dan kaitan biasanya berasal dari solusi minera karbonat (Boyd, 1982).

2.2.3 Kualitas Air yang Baik

Menurut Ekawati (2005), mutu air yang baik diperoleh melalui pengolahan air yang berupa perlakuan terhadap air yang masuk, baik secara fisik maupun kimia. Secara fisik, sebelum air masuk kedalam baik tandon harus difilter (menggunakan bak filter) yang komponennya terdiri dari lapisan:

  1. Batu koral dengan lapisan / tebal ± 30cm
  2. Pasir silika ukuran mesh 5-10 tebal 30cm
  3. Pasir silika ukuran mesh 20-30 dengan tebal 30cm
  4. Zeolit 3cm
  5. Arang batok yang terbungkus kain strimin, tebal ± 15cm. Secara kimia pengolahan air dapat dilakukan pada tandon air yaitu:
    1. Menggunakan klorin 120-200mg/l atau kaporit 12-20m/l. Sebelum digunakan untuk budidaya dinetralkan terlebih dahulu dengan natrium thiosulfat 50% dari dosis tersebut
    2. Menggunakan ozonizir
    3. Untuk air budidaya, skla laboratorium disterilkan menggunakan sinar UV dan (atridge filter ukuran 0,45-1,0 mikron) kemudian diautoclave dengan suhu 110-115°C selama 20-30 menit.

Air untuk irigasi pertambakan yang baik adalah tidak mengalami perubahan sifat-sifat fisis, jenis, maupun biologis sepanjang tahun. Jika air irigasi yang dimaksidkan adalah air yang dapat memenuhi segala fungsi yang diperlukan untuk budidaya tanpa menimbulkan dampak sampingan yangdapat mengganggu pertumbuhan maupun merusak struktur dan kesuburan tanah, kualitas air irigasi sangat diperlukan oleh garam-garam yang terlarut dalam jenis lumpur (lunau-waled) yang dikandungnya (Ranoemihardjo, 1989).

2.2.4 Efek Kualitas Air Terhadap Pakan

Kualitas air yang digunakan untuk produksi ikan budidaya ditingkatkan dengn menggunakan pakan dan pupuk, atau kadang-kadang keduanya. Di perairan pakan dan pupuk yang digunakan managemen kulitas air biasanya melibatakan manipulasi anggaran untuk meningkatakn produksi plankton untuk pertumbuhan ikan yang lebih besar (Claude, 1982).

Dapat disimpulkan bahwa penurunan tingkat suhu makanan atau tumbuhan terjadi pada temperatur mendekati tingkat disturbing untuk spesien tertentu dan kondisi kualitas air tertentu (Alabaster, 1981).

2.2.5 Hubungan antara kualitas air

Temperatur berpengaruh nyata terhadap keanekaragaman vegetasi akuatik.Semakin tinggi temperatur keanekaragaman vegetasi akuatik semakin tinggi.Amonia berkolerasi negatif dengan pengaruh yang nyata terhadap keanekaragaman vegetasi akuatik.Meningkatnya landungan amonia dalam perairan menyebabkan penurunan keanekaragaman vegetasi akuatik.Faktor fisik kimia lainnya mempunyai pengaruh yang tidak nyata terhadap keanekaragaman vegetasi akuatik pada penelitian ini.Hal itu terjadi mungkin karna nilai dari parameter-parameter tersebut selama penelitian ini masih berada pada batas yang dapat di toleransi oleh vegetasi akuatik yang terdapat di Perairan (Boyd dalamIrawan, et al, 2009).

Menurut Yulfiperius, et al (2004), Perubahan satu di antara faktor lingkungan akanmempengaruhi keragaan fitoplankton, penambahan unsur nitrogen dan fosfat akan memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan pada kisaran salinitas 0-31 ppt.Di perairan yang bersalinitas < 2 ppt pertumbuhannya dibatasi oleh unsur fosfat sedangkan pada perairan yang lebih asin dibatasi oleh unsur N

2.3 Korversi Pakan

2.3.1 Pengertian Pertumbuhan

Pertumbuhan adalah suatu proses bertambahnya jumlah sel tubuh suatu organisme yang disertai pertambahan ukuran, besar serta tinggi yang bersifat irreversible (tidak dapt kembali pada kegiatan semula).Pertumbuhan lebih bersifat kuantatif dimana organisme yang dulunya kecil menjadi lebih besar seiring dengan bertambahnya waktu (Perfecto, 2010).

Pertumbuhan juga dapat diartikan sebagai perubahan alamiah secara kuantitatif pada sei jasmaniah/fisik dan menunjukkan kepada suatu fungsi tertentu ynag baru dariorganisme atau individu serta berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah ukuran, atau demisi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gr/pound), ukuran panjang (cm, inchi), umur, tulang dan keseimbangan metabolik (relensi kalsium dan nitrogen tubuh) (Rosy,2009).

Cara pemeliharaan menentukan cepat lambatnya pertumbuhan ikan. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan antara lain, penyakit (Lesmana dan Dermawan 2006, dalamhobikan, 2009).

2.3.2 Faktor-Faktor Pertumbuhan

Menurut Hust (1971), dalam Rustidja (1996), pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal. Faktor interna antara lain keturunan, umu, ketahanan, terhadap serangan penyakit, kuantitas dan kualitas makanan, kadar oksigen terlarut serta ruang gerak ekssternal.

Pertumbuhan dipengaruhi faktor genetik, hormon dan lingkungan.Meskipun secara umum, faktor lingkungan yang memegang peranan sangat penting adalah zat hara.Suhu lingkungan, namun didaerah tropis zat hara lebih penting dibandingkan suhu lingkungan. Zat hara meliputi makanan, air, oksigen, menyediakan bahan mentah bagi pertumbuhan, gen, mengatur pengolahan bahan tersebut dan hormon mempercepat pengolahan serta merangsang gen (Fujayana, 2008).

2.3.3 Fungsi Pakan

Penggunaan pakan secara efisien tidak hanya memberi dampak positif terhadap biaya, produksi tetap juga akan menjamin kualitas akhir. Pada pengolahan budidaya, sistem intensif yang berwawasan lingkungan, kemampuan managemen dalam memiliki pakan bermutu dengan dosis yang tepat dan cara pemberian pakan yang benar sangat diperlukan (Amri, 2009).

Makanan alami yang umum digunakan dalam usaha pembenihan dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu : beberapa spesies dari mikro algae, rotifera dan artemia. Nilai nutrisi jasad makanan alami dapat dilihat dari kandungan protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral (Ekawati, 2005).

2.3.4 Pengertian FCR, SR, GR

a. FCR (Feed Convertion Ratio)

Menurut Taufik et.al (2003) FCR (Feed Convertion Ratio) adalah ratio efisien pemberian pakan yang biasa disebut rasio konversi pakan atau biasa disebut dengan RKP.

FCR adalah perbandingan jumlah pakan komulatif yang telah diberikan dengan biomass yang dihasilakan dalam waktu tertentu (Marindrob, 2011).

FCR merupakan kepanjangan dari Feed Convertion Ratio artinya berapa ratio pakan atau definisi yang sangat mudah dipahami, FCR adalah berupa banyak pakan (Kg) yang diberikan untuk menghasilkan 1Kg daging ikan (Mujianto, 2009).

b. SR (Survival Rate)

SR (Survival Rate)istilah ini menunjukkan tingkat keidupan udang dalam satu periode tertentu dibandingkan dengan padat penebaran pada saat tebar. Variabelnya diperoleh melalui kegiatan populasi secara periodik (Marindrob, 2011).

Survival Rate atau biasa dikenal dengan SR dalam perikanan budidaya merupakan indeks kelulusan hidup suatu jenis ikan dalam suatu proses budidaya dari mulai awal ikan ditebar hingga panen. Nilai SR ini dihitung dalam bentuk angka presentase, mulai dari 0-100% rumusnya yaitu   SR= x100%

SR ini juga merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam kegiatan budidaya ikan. Jika ikan yang hidup saat panen banyak dan yang mati hanya sedikit, tentu nilai SR akan tinggi, namun sebaliknya jika jumlah ikan yang mati banyak sehingga jumlah yang masih hidup saat dilakukan pemanenan tinggal sedikit tentu nilai SR akan rendah (Agriefishery, 2010).

c. GR (Growth Rate)

Pertumbuhan mutlak atau Growth Rate (SR) adalah pertambahan bobot rata-rata tiap hari

GR=

GR = pertumbuhan mutlak (gram/hari)

Wt = berat rata-rata ikan pada hari ke-t (gram)

Wo = berat rata-rata ikan pada hari ke-0 (gram)

T = waktu (hari) (Surya Perdana, 2009).

2.3.5 Hubungan Pakan dengan Pertumbuhan

Pakan merupakan unsur terpenting dalam proses budidaya yang dapat menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup budidaya. Pakan pada suatu spesies budidaya menghasilkan sekitar 60-70% biaya produksi yang dilakukan oleh pembudidaya (Sahwan dalam Arief, et al, 2004).

Ikan seperti pada umumnya makhluk bertulanh belakang lainnya, memerlukan berbagai jenis gizi untuk memenuhi kebutuhan energi yang diperlukan untuk hidup dan berkembang.Berbagai kandungan gizi pada ikan agar tetap hidup dan tumbuh.Protein, lipid dan karbohidrat diperlukan untuk menyediakan energi, disamping itu, protein pada khususnya diperlukan untuk pertumbuhan (Purwakusuma, 2009).

  1. METODOLOGI

 

3.1    Alat Dan Fungsi

3.1.1        Pengolahan tanah

Cangkul                            : untuk membalik tanah pada dasar kolam

untukmengangkat unsur hara

Sabit                                 :membersihkan rumput liar dan enceng

gondok yang ada disekitar kolam

Gerobak dorong               : untuk mengangkut sampah/potongan

rumput liar

Ember                               : untuk menampung air saat membersihkan

kolambeton

Sikat                                 :untuk membersihkan kotoran yang

adapada kolam beton

3.1.2   Pengukuran DO

– Botol DO      : Untuk  tempat air sampel yang akan digunakan dalam pengukuran DO

– Pipet tetes     : Untuk mengambil larutan kimia yg akan dilarutkan dalam pengukuran DO

– Biuret            : Untuk tempat titrasi

– Statif             : Untuk penyangga biuret

– Corong          : Untuk memudahkan memasukkan larutan ke dalam biuret

3.1.3  Pengukuran Suhu

– Termometer Hg         : Untuk mengukur suhu di perairan

3.1.4  Pengukuran Kecerahan

– Secchi disk    : Untuk mengukur kecerahan pada perairan

3.1.5 Pengukuran orthofhosphat

– Beaker glass 50 ml    : Untuk tempat melarutkan

– Beaker glass 100 ml  : Untuk tempat air sampel

– Pipet tetes                 : Untuk mengambil larutan dalam jumlah sedikit

– Cuvet                                    : Sebagai wadah sampel yang akan diukur panjang

gelombangnya

– Nampan                    : Untuk meletakkan alat dan bahan

– Spektofotometer       : Untuk mengukur panjang gelombang suatu larutan

– Washing bottle          : Sebagai wadah aquadest

3.1.6  Pengukuran nitrat nitrogen

– Gelas ukur 25 ml           : Untuk mengukur banyaknya larutan yang digunakan

– Beaker glass 50 ml    : Untuk sampel dan pengenceran larutan

– Beaker glass 100 ml  : Untuk wadah pengambilan sampel

– Pipet tetes                 : Untuk mengambil larutan dalam jumlah sedikit

– Spektofotometer       : Alat untuk mengukur panjang gelombang suatu

larutan

– Cuvet                                    : Untuk wadah larutanyang akan diukur panjang

Gelombangnya

3.2    Bahan dan fungsi

3.2.1 Pengolahan Tanah

Pupuk organik                   :untuk menyuburkan tanah dan

menumbuhkan pakan alami

Kapur                                : untuk membunuh hama dan penyakit dan

menstabilkan kolam beton

Air                                     : untuk membersihkan kolam beton

3.2.2 Pengukuran DO

– Sampel air kolam      : Sebagai objek yang akan diukur kandungan DOnya

– Larutan MnSO­­­­­4        : Untuk mengikat oksigen pada saat pengukuran DO

– Larutan NaOH+KI   : Untuk melepas I2 dan membentuk endapan coklat

pada saat pengukuran DO

– Larutan H2SO4        : Untuk pengkondisian asam dan melarutkan endapan coklat

– Larutan amilum         : Untuk indikator warna ungu dan pengkondisian basa

– Larutan Na2S2O3    : Sebagai bahan titrasi pada pengukuran DO

– Tissue                        : Untuk membersihkan dan mengeringkan alat yang

telah di kalibrasi

3.2.3  Pengukuran pH

– Sampel air kolam      : Sebagai objek yang akan diukur pHnya

– pH paper                   : Untuk mengetahui kandungan pH suatu perairan

3.2.4  Pengukuran Suhu

– Sampel air kolam      : Sebagai objek yang akan diukur suhunya

3.2.5 Pengukuran Kecerahan

–  Sampel air kolam     : Sebagai objek yang akan diukur kecerahannya

3.2.6  Pengukuran Orthofosphat

– Sampel air kolam : Sebagai objek yang akan diukur kandungan fosphatnya

– Larutan amonium molybdate: Untuk mengikat kandungan fosphat

– Larutan SnCl2                      : Untuk indikator warna biru dalam suasana

basa

– Tissue                                    : Untuk mengeringkan alat yang telah di

kalibrasi

g. Pengukuran nitrat nitrogen

– Sampel air kolam      : Sebagai objek yang akan diukur nitrat nitrogennya

– Larutan Fenddisulfonik        : Untuk melarutkan kerak pada beaker glass

– Larutan NH4OH      : Sebagai Indikator basa

– Aquadest                  : Untuk membersihkan alat agar steril (kalibrasi)

– Tissue                        : Untuk membersihkan dan mengeringkan

alat yang telah di kalibrasi

3.3    Prosedur Kerja

3.3.1 Persiapan Kolam

  1. Kolam tanah

Disiapkan alat dan bahan

Dikeringkan

Dibersihkan

Dibuat plengsengan

Dicangkul

Diberi kapur (dosis yang diperlukan 200 gr/m2)

Diratakan

Diberi pupuk (dosis yang diperlukan 200-300 gr/m2)

Diratakan

Diisi air

Hasil

Di tunggi 1-2 ,minggu (menumbuhkan pakan alami)

  1. Kolam Beton

Disiapkan alat dan bahan

Dibersihkan

Dibilas

Ditutup lubang pembuangan air

Diisi air

Diberi pupuk kandang (dosis yang diperlukan 200-300gr/m2)

Didiamkan beberapa hari

Hasil

  1. Kolam Semi Beton

Disiapkan alat dan bahan

Dikeringkan

Dibersihkan

Dicangkul

Diberi kapur (dosis yang diperlukan 200 gr/m2)

Diratakan

Diberi pupuk (dosis yang diperlukan 250 gr/m2)

Diratakan

Diisi air

Hasil

Di tunggi 1-2 ,minggu (menumbuhkan pakan alami)

3.3.2 Penebaran Benih (Stocking)

a)

Kolam Tradisional

Kolam tradisional (Polikultur nila dan lele)

Di hitung benih ikan lele sebanyak 1000 ekor dan nila 900 ekor

Di masukkan ke dalam ember

Di bawa ke kolam

Di masukkan ke kolam dalam posisi miring

Di posisikan setengah lingkaran

Di biarkan ikan keluar dan di kosongkan ember

Hasil

b)

Hasil

Kolam Semi Tradisional

Kolam semi tradisional (Polikultur nila dan lele)

Kolam Semi Tradisional

Di hitung ikan lele sebanyak 1000 ekor dan ikan nila 900 ekor

Di masukkan ke dalam ember

Di bawa ke kolam

Di masukkan ke dalam kolam dengan posisi miring

Di posisikan setengah lingkaran

Di biarkan ikan keluar dan di kosongkan ember

c)

Kolam Beton Lele

Kolam beton lele

Di hitung benih ikan lele 1000 ekor

Di masukkan ke dalam ember

Di bawa ke kolam beton

Di masukkan ke dalam kolam dengan posisi miring

Di posisikan setengah lingkaran

Di biarkan ikan keluar dan di kosongkan ember

Hasil

d)

Kolam Beton Nila

Kolam beton nila

Di hitung benih ikan nila 700 ekor

Di masukkan ke dalam ember

Di bawa ke kolam beton

Di masukkan ke dalam kolam dengan posisi miring

Di posisikan setengah lingkaran

Di biarkan ikan keluar dan di kosongkan ember

Hasil

Parameter kualitas air

a. CO2

Air Sampel 25 ml

Tidak terdapat CO2

Di siapkan alat dan bahan

Di masukkan air dalam erlenmeyer

Di tambah 1 – 2 tetes indicator PP

Di kocok

Hasil

Air Sampel 25 ml

Terdapat CO2

Di siapkan alat dan bahan

Di masukkan dalam erlenmeyer

Di tambah 1 – 2 tetes indicator PP

Di kocok

Di titrasi dengan 0,0454 N Na2CO3 sampai berubah warna pink

Di hitung kadar CO2 dengan rumus :

CO2 = ml titran x Ntitran x 22 x 1000

Ml air sampel-4

Hasil

Secchi disk

b. Kecerahan

Di masukkan secchi disk ke dalam sampai tidak tampak

Di tandai dengan D1

Di masukkan sampai tidak tampak

Di angkat secchi disk sampai tampak pertama kali

Di tandai dengan D2

Di hitung dengan rumus : D1 + D2

2

Hasil

Air Sampel

c. Nitrat nitrogen

Di panaskan sampai berkerak

Di dinginkan

Di tambahkan 1 ml asam penol disolfonik

Di aduk dengan pengaduk gelas

Di encerkan dengan 10 ml aquades

Di tambahkan NH4OH 10 tetes sampai terbentuk warna

Spektofotometer

Di encerkan dengan aquades 10 ml

Di tekan power

Di tunggu hingga “method”

Di tekan panjang gelombang dan di sesuaikan dengan bahan

Di “enter”

Di masukkan aquades 10 ml

Di tekan “zero” sampai 0,0

Di buang aquades

Di isi dengan larutan nitrat nitrogen

Di “enter”

Hasil

d. Amonium

Air Sampel

Di masukkan ke dalam beaker glass, bila keruh (di saring)

Di tambahkan 1 ml nester

Di homogenkan

Di endapkan

Di ambil larutan bening

Di masukkan ke cuvet

Spektofotometer

Di hitung panjang gelombang dengan spektofotometer

Di tekan power

Di tunggu hingga “method”

Di tekan panjang gelombang dan di sesuaikan dengan bahan

Di “enter”

Di masukkan aquades 10 ml

Di tekan “zero” sampai 0,0

Di buang aquades

Di isi dengan larutan ammonia

Hasil

Di “enter”

Air Sampel

e. Ortho – Phosphat

Di ukur dan di masukkan 50 ml air ke dalam erlenmeyer

Di tambah 2 ml ammonium molydate

Di kocok

Di tambahkan 5 tetes CnCl2

Di kocok

Spektofotometer

Di ukur dengan spektofotometer

Di tekan power

Di tunggu hingga “method”

Di tekan panjang gelombang dan di sesuaikan dengan bahan

Di “enter”

Di masukkan aquades 10 ml

Di tekan “zero” sampai 0,0

Di buang aquades

Di isi dengan larutan Ortho – P

Hasil

Di “enter”

Botol DO

f. Pengukuran DO

Di catat volume botol

Di masukkan ke dalam air perlahan dengan kemiringan 45˚

Di tutup setelah botol terisi penuh

Di angkat dari perairan

Di buka tutup botol

Di tambahkan 2 ml larutan MnSO4 dan 2 ml larutan NaOH+KI

Di homogenkan

Di diamkan hingga terjadi endapan coklat selama 30 menit

Di buang air bening di atas endapan

Di tambah 2 ml larutan H2SO4 pekat

Di homogenkan

Di tambahkan 3 – 4 tetes amilum

Di titrasi dengan Na2S2O3 0,025 W

Di catat volume titrasi yang terpakai

Di tuliskan perhitungan DO dengan rumus

DO = Vtitran x Ntitran x 1000 x 8

Vbotol DO – 4

Hasil

pH paper

g. pH

Di masukkan pH paper ke dalam air sampel

Di angkat dan di kibas – kibaskan hingga setengah kering

Di cocokkan dengan kotak pH

Hasil

Termometer

h. Suhu

Di celupkan termometer ke dalam air sampel

Di lakukan dengan membelakangi matahari

Di tunggu 2 – 3 menit

Di angkat dan di baca suhu pada skala

Hasil

  1. PEMBAHASAN

4.1    Analisa Prosedur

4.1.1 Pengolahan Tanah Pada Kolam Tradisional

Dalam praktikum dasar-dasar akuakultur dibutuhkan alat-alat dan bahan. Alat yang digunakan adalah Cangkul untuk membalik tanah pada dasar kolam untuk  mengangkat unsur hara. Sabit membersihkan rumput liar dan enceng gondok yang ada disekitar kolam.Gerobak dorong untuk mengangkut sampah/potongan rumput liar.Sedangkan bahan yang digunakan adalah pupuk untuk menyuburkan tanah dan kapur untuk menstabilkan pH tanah dan air.

Hal pertama yang dilakukan pada kolam tradisional adalah mencabut atau membersihkan enceng gondok dari kolam dengan cara manual atau menggunakan tangan serta menggunakan sabit. Hal ini bertujuan untuk mengangkat tumbuhan pengganggu dari tanah agar cahaya matahari dapat menyinari tanah secara langsung tanpa penghalang , serta meningkatkan kadar O2 pada tanah. Setelah dibersihkan bagian pinggir kolam diberi lumpur dengan menggunakan cangkul hal ini dilakukan untuk membuat plengseran agar kolan tidak bocor.Setelah itu kolam diratakan dengan cangkul, kemudian ditaburkan kapur dengan dosis 200 gr/m2 pada kolam yang bertujuan untuk meningkatkan pH tanah.Setelah kapur ditebar merata pada seluruh permukaan kolam, maka tahap selanjutnya adalah pemupukan dengan dosis 200-300gr/m2 yang bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami.Setelah semuanya selesai kolam diboarkan beberapa hari, kemudian dilakukan pengairan/ pengisian air.

4.1.2 Pengolahan tanah

Dalam praktikum dasar-dasar akuakultur dibutuhkan alat-alat dan bahan. Alat yang digunakan adalah Cangkul untuk membalik tanah pada dasar kolam untuk  mengangkat unsur hara. Sabit membersihkan rumput liar dan enceng gondok yang ada disekitar kolam.Gerobak dorong untuk mengangkut sampah/potongan rumput liar.Sedangkan bahan yang digunakan adalah pupuk dengan dosis 200-300gr/m2 untuk menyuburkan tanah dan kapur dengan dosis 200gr/m2 untuk menstabilkan pH tanah dan air.

Hal pertama yang dilakukan pada kolam tradisional adalah mencabut atau membersihkan enceng gondok dari kolam dengan cara manual atau menggunakan tangan serta menggunakan sabit. Hal ini bertujuan untuk mengangkat tumbuhan pengganggu dari tanah agar cahaya matahari dapat menyinari tanah secara langsung tanpa penghalang , serta meningkatkan kadar O2 pada tanah. Setelah itu kolam diratakan dengan cangkul, kemudian ditaburkan kapur dengan dosis 200 gr/m2 pada kolam yang bertujuan untuk meningkatkan pH tanah.Setelah kapur ditebar merata pada seluruh permukaan kolam, maka tahap selanjutnya adalah pemupukan dengan dosis 200-300gr/m2 yang bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami.Setelah semuanya selesai kolam diboarkan beberapa hari, kemudian dilakukan pengairan/ pengisian air.

4.1.3 Pengolahan Tanah pada Kolam Beton

Dalam praktikum dasar-dasar akuakultur dibutuhkan alat-alat dan bahan.Alat yang digunakan adalah sabit dan sikat untuk membersihkan kotoran pada kolam.Ember untuk menampung air. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air untuk membersihkan kolam

Hal pertama yang dilakukan pada kolam tradisional adalah mencabut atau membersihkan dinding kolam serta permukaan kolam dari sisa-sisa kotoran dan pakan-pakan yang mengendap. Hal ini dilakukan dengna cara menggosokkan benda tajam (sabit) atau sikat khusus kemudian disiram dengan air agar kolam bersih, kemudian didiamkan selam 1-2 minggu.

4.1.4 Pengapuran Kolam

Langkah-langkah yang harus dilakukan pada pengapuran kolam adalah disiapkan terlebih dahulu kapur yang akan digunakan, antara lain kapur pertanian yaitu karbonat (CaCO3) atau (CaMg) CaCO3 dan kapur tohor kapur aktif (CaO). Dosis yang diperlukan yaitu dengan rumus pH akhir – pH awal xo, 16-0,1 atau 200gr/m2. Setelah selesai, kapur ditebar secara merata dan diinjak-injak agar kapur tercampur didalam tanah.

4.1.5 Pemupukan Kolam

Langkah pertama yang dilakukan dalam pemupukan adalah disiapkan pupuk kandang yang berfungsi untuk menyuburkan tanah serta menghambat resapan air. Dosis yang diperlukan antara 200-300gr/m2 untuk kolam tanah sedangkan  untuk kolam semi beton 250gr/m2.

4.2.  Analisa Prosedur Pengukuran Kualitas Air

4.2.1.  Pengukuran pH

Langkah pertama yang dilakukan dalam pengukuran pH yaitu disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Adapun alat yang digunakan yakni, kotak standart pH digunakan untuk mencocokan hasil identifikasi pH dan pH paper yang sudah dimasukkan ke dalam suatu perairan. Sedangkan bahan yang digunakan yakni pH paper digunakan untuk mengambil sample air yang diukur pH nya, dan air sample sebagai media pengukuran pH.

Langkah selanjutnya yakni, pH paper dimasukkan ke dalam perairan atau kolam yang akan diukur pH nya. Lalu diamkan selama 2-3 menit.Setelah itu, diangkat dari perairan atau kolam, dikibas-kibaskan sampai setengah kering agar warna pada pH paper dapat terlihat jelas untuk dicocokkan pada kotak standart pH.Dicatat hasil pengukuran pH pada data hasil pengamatan.

4.2.2.  Pengukuran Suhu

Langkah pertama yang dilakukan dalam pengukuran suhu yakni disiapkan alat dan bahan.Alat yang digunakan yakni thermometer digunakan untuk mengukur suhu pada suatu perairan.Sedangkan bahan yang digunakan yakni tali atau benang untuk pegangan pada ujung thermometer agar pada saat pengukuran suhu pada thermometer tidak terkontaminasi dengan suhu tubuh, dan air sampler sebagai media yang diukur suhunya.

Langkah berikutnya  dicelupkan thermometer pada suatu perairan,yang akan diukur suhunya, pada saat memasukkan thermometer ke dalam kolam dengan posisi membelakangi matahari agar suhu pada thermometer tidak terkontaminaso oleh radiasi matahari secara langsung. Lalu diamkan selama 2-3 menit, dicatat suhu pada thermometer dalam keadaan thermometer masih berada di dalam kolam agar tidak terpengaruh oleh suhu luar perairan.Kemudian diangkat thermometer dari kolam dan dicatat hasilnya.4.2.3.  Pengukuran Kecerahan

Langkah pertama yang dilakukan dalam pengukuran kecerahan yakni disiapkan alat dan bahan.Alat yang digunakan yakni sechidisk digunakan untuk mengukur kecerahan suatu perairan, meteran digunakan untuk mengukur ukuran kecerahan (D1 dan D2). Sedangkan bahan yang digunakan yakni sample air suatu perairan atau kolam sebagai media pengamatan.

Langkah selanjutnya, sechidisk dimasukka ke dalam kolam hingga tidak terlihat pertama kali, lalu diukur tingginya dan dicatat sebagai D1.Kemudian  dimasukkan kembali sechidisk hingga dasar kolam. Diangkat sechidisk dari dasar kolam hingga terlihat untuk pertama kali, diukur panjangnya, dicatat sebagai D2. Setelah itu dihitung  kecerahan dengan rumus , kemudian hasil pengukuran dicatat dalam data hasil pengamatan.

4.2.3.  Pengukuran DO

Langkah pertama yang dilakukan dalam pengukuran DO yakni disiapkan alat dan bahan. Alat yang digunakan yakni pipet tetes digunakan untuk mengambil larutan dalam jumlah sedikit, statif digunakan untuk menyangga buret, botol DO digunakan untuk tempat air sample yang sudah diketahui volumenya dalam ml, dan buret sebagai tempat titrasi. Sedangkan bahan yang dibutuhkan yakni kertas label digunakan untuk menandai larutan, NaOH+KI digunakan untuk membentuk endapan coklat dan melepas I2, MnSO4 digunakan untuk mengikat oksigen, H2SO4 digunakan untuk pengkondisian asam dan mengikat I2, amyllum digunakan untuk pengkondisian suasana basa dan indicator warna ungu, Na2S2O3 untuk titrasi, dan tissue untuk membersihkan alat yang telah digunakan.

Langkah selanjutnya yakni dicatat volume botol DO terlebih dahulu, dimasukkan ke dalam perairan dengan posisi miring 45° agar mencegah adanya gelembung udara. Lalu dibuka tutup botol DO yang berisi sample air, dan ditambahkan 2 ml MnSO4 untuk mengikat oksigen dan 2 ml NaOH+KI untuk membentuk endapan coklat dan melepas I2, lalu dihomogenkan. Setelah itu didiamkan selama 30 menit untuk mendapatkan endapan coklat.Kemudian dibuang cairan beningnya.Selanjutnya ditetesi 3 tetes amylum sebagao pengkondisian suasana basa dan indicator warna ungu, lalu dihomogenkan.Selanjutnya dititrasi dengan 0,025N Na2S2O3 sampai air menjadi warna bening pertama kali, dan dicatat ml Na2S2O3 yang digunakan. Setelah itu dihitung DO dengan rumus

DO= , dan dicatat hasil pengukuran dalam data hasil pengamatan.

Jika semua selesai dilakukan, dibersihkan alat yang telah digunakan menggunakan tissue dan dikembalikan ke tempat semula.

4.2.4.  Pengukuran CO2

Langkah awal yang dilakukan dalam pengukuran CO2  yakni disiapkan alat dan bahan. Alat yang digunakan yakni tabung Erlenmeyer sebagai tempat air sample 25 ml, buret sebagai tempat Na2S2O3, statif digunakan untuk menyangga buret, pipet tetes digunakan untuk mengambil larutan dalam jumlah kecil. Bahan yang digunakan yakni air sample sebagai media yang akan diukur CO2 nya, indikator pp untuk indikator  warna merah muda, Na2S2O3 vuntuk titrasi, dan tissue untuk membersihkan alat yang telah digunakan.

Langkah berikutnya disiapkan air sample. Ada dua cara untuk mengetahui ada tidaknya CO2 pada air sample dan mengukur kadar CO2 pada suatu perairan. Selanjutnya ambil air sample 25 ml, dimasukkan ke dalam erlenmeyer.Tambahkan indikator pp untuk membentuk warna merah muda, lalu dihomogenkan.Dilihat perubahannya, apabila air sample sudah berubah warna menjadi merah muda maka air sample tersebut tidak terdapat CO2.Jika air sample tidak berubah warna kemungkinan besar air sample itu mengandung CO2 maka perlu dilakukan titrasi dengan 0,045N Na2S2O3  sampai berubah warna merah muda, dan air sample tersebut berarti memang mengandung CO2. Lalu kadar CO2  dihitung dengan rumus CO2 = . Dicatat hasil pengukurannya dalam data hasil pengamatan.

Setelah semua selesai dilakukan, alat dibersihkan dengan tissue dan dikembalikan ke tempat semula.

4.2.5. Pengukuran Ortho-Phospat

Langkah pertama yang dilakukan dalam pengukuran ortho-phospat yakni disiapkan alat dan bahan. Alat yang digunakan yakni erlenmeyer untuk tempat air sample 50 ml, pipet tetes digunakan untuk mengambil larutan dalam jumlah sedikit, dan spektofotometer digunakan untuk mengukur panjang gelombang. Bahan yang digunakan yakni air sample sebagai media pengukuran, ammonium molbdate untuk mengikat phosoat, SnCl2 digunakan untuk pengkondisian suasana basa dan indikator  warna biru bening, aquades digunakan untuk mengkalibrasi, dan tissue untuk membersihkan alat yang telah digunakan.

Langkah berikutnya yakni dimasukkan 50 ml air sample ke dalam erlenmeyer. Lalu ditambahkan 2 ml ammonium molybdate untuk mengikat phospat, lau dihomogenkan.Diukur panjang gelombang menggunakan spektofotometer.

Cara pengukuran menggunakan spektofotometer yakni ditekan power, ditunggu “Methode”. Lalu ditekan panjang gelombang yang disesuaikan dengan bahan, lalu di enter. Selanjutnya dimasukkan aquades 10 ml untuk pengkalibrasian, lau di enter. Dicatat hasil pengukuran dalam data hasil pengamatan.

Setelah semua langkah sudah terselesaikan dan sudah mendapat hasil, dibersihkan alat yang telah digunakan dan dikembalikan ke tempat semula.

4.2.7.  Pengukuran Amonia

Langkah pertama yang dilakukan dalam pengukuran ammonia yakni disiapkan alat dan bahan. Alat yang digunakan yakni beakerglass 100 ml sebagai wadah larutan, pipet tetes digunakan untuk mengambil larutan dalam jumlah sedikit, cuvet digunakan dalam jumlah sedikit, cuvet digunakan sebagai wadah sample yang akan diukur panjang gelombangnya, dan nampan sebagai tempat alat dan bahan. Bahan yang digunakan yakni air sample sebagai media atau larutan yang akan diukur kadar amonia nya, nessler digunakan untuk mengikat amonia, aquades digunakan sebagai pengkalibrasian pada spektofotometer, dan tissue digunakan untuk membersihkan alat yang telah digunakan.

Langkah berikutnya yakni dimasukkan air sample 25 ml ke dalam beaker glass, apabila keruh disaring. Lalu ditambahkan 1 ml nessler untuk mengikat ammonia, dan dihomogenkan.Kemudian diendapkan kurang lebih selama 30 menit.Setelah itu diambil larutan bening dan dimasukkan dalam cuvet.Selanjutnya dihitung panjang gelombang dengan spektofotometer.

Pada pengukuran menggunakan spektofotometer, langkah awalnya yakni ditekan power, di tunggu hingga “methode”.Lalu di tekan panjang gelombang, disesuaikan dengan bahan dan dienter.Selanjutnya dimasukkan aquades untuk pengkalibrasian.Lalu “zero”.Dibuang aquades dan diisi dengan larutan ortho kemudian dienter.Selanjutnya dicatat hasil pengukuran dalam data hasil pengamatan.

Setelah semua langkah sudah dilakukan, alat dibersihkan dan dikembalikan ke tempat semula.

4,2.8.  Pengukuran Nitrat-Nitrogen

Langkah pertama yang dilakukan dalam pengukuran nitrat-nitrogen yakni disiapkan alat dan bahan. Alat yang difunakan yankini hotplate digunakan untuk memanaskan air sample hingga berkerak, beaker glasa untuk wadah air sample, gelas ukur digunakan untuk mengukur volume air sample, pipet tetes digunakan untuk mengambil dan memindahkan larutan dalam jumlah sedikit, dan spatula digunakan untuk menghomogenkan larutan. Bahan yang digunakan yakni air sample sebagai media yang diamati, larutan asam fenol disulfonik untuk melarutkan kerak pada beaker glass, aquades digunakan untuk pengenceran larutan, larutan NH4OH digunakan sebagai pengkondisian suasana basa dan indikator warna kuning, dan tissue digunakan untuk pembersian alat yang telah digunakan.

Langkah selanjutnya yakni dipanaskan air sample sampai berkerak dalam beaker glass, lalu didinginkan. Kemudian ditambahkan 1 ml larutan asam fenol disolfonik, diaduk dengan spatula.Setelah itu diencerkan dengan 10 ml aquades.Selanjutnya ditambahkan NH4OH 1 tetes untuk pengkondisian suasana basa dan indikator warna kuning.Diencerkan dengan aquades, dan dihitung panjang gelombang dengan spektofotometer.

Pada pengukuran spektofotometer sebelumnya ditekan enter terlebih dahulu. . lalu ditunggu hingga “methode”, ditekan panjang gelombang dan di enter. Dimasukkan aquades 10 ml, ditekan “zero”. Setelah itu dibuang aquades dan diisi larutan ortho. Kemudian ditekan enter

4.2.9.  Pemanenan

Langkah pertama yang dilakukan yakni disiapkan alat dan bahan.Adapun alat yang dibutuhkan diantaranya bak untuk wadah ikan hasil panen, jarring digunakan untuk menjaring ikan, timbangna untuk menimbang sample ikan.Sedangkan bahan yang dibutuhkan yaitu air bersih untu tempat berenang ikan di bak.

Langkah selanjutnya, diambil dan dibersihkan rumput di dalam kolam.Kemudian dipasang jaring di dekat dan menutupi outlet agar ikan tidak lepas atau keluar dari outlet, dan ditunggu air kolam sampai habis. Lalu dijaring ikan, dan diambil ikan yang ada di dasar kolam ( tanah liat ). Selanjutnya ditaruh ikan dibak yang bersih. Kemudian diambil sample ikan sebanyak 10 ekor untuk ditimbang bobot ikan tersebut. Kemudian, dimasukkan dalam data pengamatan dan perhitungan.

4.2 Perhitungan

Kolam Semi Tradisional :

  • Lele                              FCR   =

                                                            =  = 20,96 gr

                                                 SR      = x 100 %

=  x 100 %

= 30,9 %

GR     =

=  x 100%

= 11 %

  • Nila                              FCR   =

                                                =  = 4,26 gr

                                     SR      = x 100 %

                                                = =  x 100 % = 29%

                                    

                                     GR     =

                                                            =  x 100% = 64 %

 

Kolam Tradisional

  • Lele                              FCR   =

                                                            =  = 6,94 gr

                                                 SR      = x 100 %

=  x 100 %

= 7 %

GR     =

=  x 100%

= 14 %

  • Nila                              FCR   =

                                                =  = 5,06 gr

                                     SR      = x 100 %

                                                = =  x 100 % = 82%

                                    

                                     GR     =

=  x 100% = 31 %


 

4.2  Data Pengamatan Harian dan Mingguan

DATA PENGAMATAN HARIAN DASKUL 2011

Tanggal

Kolam

lele

nila

Suhu

pH

DO

kecerahan

Beratpakanikan

5 Mei

Trad

33

7

27,5

62

Beton

lele

28

9

40

31,5

Beton

nila

29

8

55

21

Semi.Trad

30

8

54

62

6 Mei

Trad

28

7,5

17,47

28

74

Beton

lele

29

8

9,76

36

20

Beton

nila

27

8

13,82

42

54

Semi.Trad

31

7,5

17,88

53

74

7 Mei

Trad

28

8

9,72

62

Beton

lele

28

8

16,29

31,5

Beton

nila

26

8

15,44

21

Semi.Trad

29

7

9,34

62

8 Mei

Trad

30

8

67,5

74

Beton

lele

29

9

72,5

20

Beton

nila

29

8

100 %

54

Semi.Trad

32

8

15,78

52

74

9 Mei

Trad

29

7

14,76

29

62

Beton

lele

28

9

17,6

38

31,5

Beton

nila

29

8

9,72

50

21

Semi.Trad

30

8

9,67

52

62

10 Mei

Trad

28

7,5

17,47

29

74

Beton

lele

29

8

9,76

34

20

Beton

nila

27

9

13,82

40

54

Semi.Trad

30

7,5

17,88

52

74

11 Mei

Trad

28

8

9,72

62

Beton

lele

29

8

16,29

31,5

Beton

nila

26

9

15,44

21

Semi.Trad

27

7

9,34

62

12 Mei

Trad

30

8

67,5

74

Beton

lele

29

9

72,5

20

Beton

nila

28

7

        56

54

 

 

Semi.Trad

32

8

52

74

 

 

13 Mei

Trad

30

9

28

62

Beton

Lele

26

8

76

31,5

Beton

nila

29

7

59

21

Semi.Trad

32

8

54

62

14 Mei

Trad

27

7

29

74

Beton

Lele

29

8

68

20

Beton

nila

27

8

42

54

Semi.Trad

32

7,5

53

74

15 Mei

Trad

28

9

62

Beton

Lele

28

8

31,5

Beton

nila

26

8

21

Semi.Trad

29

8

62

16 Mei

Trad

30

8

40

74

Beton

Lele

29

7,5

72

20

Beton

nila

28

8

67

54

Semi.Trad

30

9

52

74

17 Mei

Trad

33

7

30

62

Beton

Lele

27

9

70

31,5

Beton

nila

29

8

55

21

Semi.Trad

30

8

54

62

18 Mei

Trad

28

7,5

17,47

28

74

Beton

Lele

29

9

9,76

56

20

Beton

nila

29

8

13,82

57

54

Semi.Trad

30

7,5

17,88

53

74

19 Mei

Trad

28

7

9,72

62

Beton

Lele

28

9

16,29

31,5

Beton

nila

26

8

15,44

21

Semi.Trad

29

7

9,34 g/l

62

20 Mei

Trad

30

8

65

74

Beton

Lele

29

8

72

20

Beton

nila

29

8

67

54

 

 

Semi.Trad

31

8

52

74

21 Mei

Trad

30

8

67

74

Beton

lele

28

8

74

20

Beton

nila

29

9

67

54

 

 

Semi.Trad

30

8

52

74

22Mei

Trad

30℃

8

67

74

Beton

lele

28℃

8

74

20

Beton

nila

29℃

9

67

54

Semi.Trad

30℃

8

52

74

23 Mei

Trad

30℃

8

67

74

Beton

lele

28℃

8

74

20

Beton

nila

29℃

9

67

54

Semi.Trad

30℃

8

52

74

24 Mei

Trad

30℃

8

67

74

Beton

lele

28℃

8

74

20

Beton

nila

29℃

9

67

54

Semi.Trad

30℃

8

52

74

25 Mei

Trad

30℃

8

67

74

Beton

lele

28℃

8

74

20

Beton

nila

29℃

9

67

54

Semi.Trad

30℃

8

52

74

26 Mei

Trad

30℃

8

67

74

Beton

lele

28℃

8

74

20

Beton

nila

29℃

9

67

54

Semi.Trad

30℃

8

52

74

 

Kolam lele Nila suhu pH DO Ortho-P Nitarat- nitrogen kecerahan CO2
Trad 28 7,5 17,47 28 10,8
Beton lele 29 8 9,76 36 39,95
Beton nila 27 8 13,82 42 19,8
Semi.Trad 31 7,5 17,88 53 19,8
Trad 28 8 15,45 2,2 0,1 27,5 Bebas
Beton lele 30 8 16,39 3,8 0,1 45 Bebas
Beton nila 26 8 19,11 3,5 0,1 55 Bebas
Semi.Trad 25 7 19,51 2,5 0,8 47 Bebas

DATA PENGAMATAN MINGGUAN DASKUL 2011

 

Dari grafik di atas, diperoleh nilai suhu tertinggi pada kolam tradisional sebesar 330 C pada tanggal 5 dan 17 Mei 2011.Sedangkan nilai suhu terendah sebesar 270 C pada tanggal 14 Mei 2011.Nilai suhu pada kolam tradisional tidak tentu. Namun mulai tanggal 20 sampai 26 Mei 2011 suhu kolam tradisional relatif tetap yaitu sebesar 300 C. Besar kecilnya suhu perairan kolam dipengaruhi oleh intensitas cahaya dan lama penyinaran matahari.

Dari grafik di atas diperoleh nilai suhu pada kolam beton lele yaitu pada tanggal 5 Mei 2011 diperoleh nilai suhu sebesar 280 C. Pada tanggal 6 Mei 2011 diperoleh nilai suhu 290 C, pada tanggal 7 Mei 2011 diperoleh nilai suhu 280 C. Pada tanggal 8 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C , pada tanggal 9 Mei 2011 diperoleh nilai suhu 280 C, pada tanggal 10 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C, pada tanggal 11 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C, pada tanggal 12 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C, pada tanggal 13 Mei 2011 diperoleh suhu 260 C,  pada tanggal 14 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C,  pada tanggal 15 Mei 2011 diperoleh suhu 280 C,  pada tanggal 16 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C,  pada tanggal 17 Mei 2011 diperoleh suhu 270 C, pada tanggal 18 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C,  pada tanggal 19 Mei 2011 diperoleh suhu 280 C,  pada tanggal 20 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C,  pada tanggal 21 Mei 2011 diperoleh suhu 280 C,  pada tanggal 22 Mei 2011 diperoleh suhu 280 C,  pada tanggal 23 Mei 2011 diperoleh suhu 280 C,  pada tanggal 24 Mei 2011 diperoleh suhu 280 C,  pada tanggal 25 Mei 2011 diperoleh suhu 280 C,  pada tanggal 26 Mei 2011 diperoleh suhu 280 C.

Dari grafik di atas diperoleh nilai suhu pada kolam beton nila yaitu pada tanggal 5 Mei 2011 diperoleh nilai suhu sebesar 290 C. Pada tanggal 6 Mei 2011 diperoleh nilai suhu 270 C, pada tanggal 7 Mei 2011 diperoleh nilai suhu 260 C. Pada tanggal 8 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C , pada tanggal 9 Mei 2011 diperoleh nilai suhu 290 C, pada tanggal 10 Mei 2011 diperoleh suhu 270 C, pada tanggal 11 Mei 2011 diperoleh suhu 260 C, pada tanggal 12 Mei 2011 diperoleh suhu 280 C, pada tanggal 13 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C,  pada tanggal 14 Mei 2011 diperoleh suhu 270 C,  pada tanggal 15 Mei 2011 diperoleh suhu 260 C,  pada tanggal 16 Mei 2011 diperoleh suhu 280 C,  pada tanggal 17 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C, pada tanggal 18 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C,  pada tanggal 19 Mei 2011 diperoleh suhu 260 C,  pada tanggal 20 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C,  pada tanggal 21 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C,  pada tanggal 22 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C,  pada tanggal 23 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C,  pada tanggal 24 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C,  pada tanggal 25 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C,  pada tanggal 26 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C.

Dari grafik di atas diperoleh nilai suhu pada kolam semi tradisional yaitu pada tanggal 5 Mei 2011 diperoleh nilai suhu sebesar 300 C. Pada tanggal 6 Mei 2011 diperoleh nilai suhu 310 C, pada tanggal 7 Mei 2011 diperoleh nilai suhu 290 C. Pada tanggal 8 Mei 2011 diperoleh suhu 320 C , pada tanggal 9 Mei 2011 diperoleh nilai suhu 300 C, pada tanggal 10 Mei 2011 diperoleh suhu 300 C, pada tanggal 11 Mei 2011 diperoleh suhu 270 C, pada tanggal 12 Mei 2011 diperoleh suhu 320 C, pada tanggal 13 Mei 2011 diperoleh suhu 320 C,  pada tanggal 14 Mei 2011 diperoleh suhu 320 C,  pada tanggal 15 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C,  pada tanggal 16 Mei 2011 diperoleh suhu 300 C,  pada tanggal 17 Mei 2011 diperoleh suhu 300 C, pada tanggal 18 Mei 2011 diperoleh suhu 300 C,  pada tanggal 19 Mei 2011 diperoleh suhu 290 C,  pada tanggal 20 Mei 2011 diperoleh suhu 310 C,  pada tanggal 21 Mei 2011 diperoleh suhu 300 C,  pada tanggal 22 Mei 2011 diperoleh suhu 300 C,  pada tanggal 23 Mei 2011 diperoleh suhu 300 C,  pada tanggal 24 Mei 2011 diperoleh suhu 300 C,  pada tanggal 25 Mei 2011 diperoleh suhu 300 C,  pada tanggal 26 Mei 2011 diperoleh suhu 300 C.

Dari grafik di atas diperoleh nilai pH pada kolam tradisional yaitu pada tanggal 5 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7. Pada tanggal 6 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7, pada tanggal 7 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8. Pada tanggal 8 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8, pada tanggal 9 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7, pada tanggal 10 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7, pada tanggal 11 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8, pada tanggal 12 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8, pada tanggal 13 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9,  pada tanggal 14 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7,  pada tanggal 15 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9,  pada tanggal 16 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 17 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7, pada tanggal 18 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7,  pada tanggal 19 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7,  pada tanggal 20 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 21 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 22 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 23 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 24 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 25 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 26 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8.

Dari grafik di atas diperoleh nilai pH pada kolam beton lele yaitu pada tanggal 5 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9. Pada tanggal 6 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8, pada tanggal 7 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8. Pada tanggal 8 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9, pada tanggal 9 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9, pada tanggal 10 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8, pada tanggal 11 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8, pada tanggal 12 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9, pada tanggal 13 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 14 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 15 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 16 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7,  pada tanggal 17 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9, pada tanggal 18 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9,  pada tanggal 19 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9,  pada tanggal 20 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 21 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 22 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 23 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 24 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 25 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 26 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8.

Dari grafik di atas diperoleh nilai pH pada kolam beton nila yaitu pada tanggal 5 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8. Pada tanggal 6 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8, pada tanggal 7 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8. Pada tanggal 8 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8, pada tanggal 9 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8, pada tanggal 10 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9, pada tanggal 11 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9, pada tanggal 12 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7, pada tanggal 13 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7,  pada tanggal 14 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 15 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 16 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 17 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8, pada tanggal 18 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 19 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 20 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 21 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9,  pada tanggal 22 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9,  pada tanggal 23 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9,  pada tanggal 24 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9,  pada tanggal 25 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9,  pada tanggal 26 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9.

Dari grafik di atas diperoleh nilai pH pada kolam tradisional yaitu pada tanggal 5 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7. Pada tanggal 6 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7, pada tanggal 7 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8. Pada tanggal 8 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8, pada tanggal 9 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7, pada tanggal 10 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7, pada tanggal 11 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8, pada tanggal 12 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8, pada tanggal 13 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9,  pada tanggal 14 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7,  pada tanggal 15 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 9,  pada tanggal 16 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 17 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7, pada tanggal 18 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7,  pada tanggal 19 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 7,  pada tanggal 20 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 21 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 22 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 23 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 24 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 25 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8,  pada tanggal 26 Mei 2011 diperoleh nilai pH sebesar 8.

Analisa grafik diatas didapat adanya DO tertinggi pada kolam tradisional pada tanggal 6, 10, dan 18 Mei dikarenakan pada tanggal tersebut air yang masuk melaui inlet terlalu banyak sehingga oksigen yang terlarut melalui difusi air relative lebih banyak. Sedangkan DO terendah pada tanggal 7, 11, dan 19 Mei 2011 sebesar 9,72 mg/l.

Berdasarkan grafik diatas diperoleh nilai DO tertinggi pada tanggal 9 Mei 2011 sebesar 17,6 mg/l. dikarenakan pada tanggal tersebut air yang masuk melaui inlet terlalu banyak sehingga oksigen yang terlarut melalui difusi air relative lebih banyak. Sedangkan nilai DO terendah pada tanggal 6 dan 18 Mei 2011,

Berdasarkan grafik diatas diperoleh nilai DO tertinggi pada tanggal 7, 11, dan 19 Mei 2011 sebesar 15,44 mg/l, dikarenakan pada tanggal tersebut air yang masuk melaui inlet terlalu banyak sehingga oksigen yang terlarut melalui difusi air relative lebih banyak.  Sedangkan nilai DO terendah pada tanggal 9 Mei 2011 sebesar 9,72 mg/l.

Berdasarkan grafik diatas diperoleh nilai DO tertinggi pada tanggal 6, 10, dan 18 Mei 2011 sebesar 17,88 mg/l, dikarenakan pada tanggal tersebut air yang masuk melaui inlet terlalu banyak sehingga oksigen yang terlarut melalui difusi air relative lebih banyak. Sedangkan nilai DO terendah pada tanggal 7, 11, dan 19 Mei 2011,

Berdasarkan grafik diatas diperoleh nilai kecerahan tertinggi pada tanggal 13 Mei 2011 sebesar 76 mg/l, Sedangkan nilai kecerahan terendah pada tanggal 10  Mei 2011 sebesar 34 mg/l , dikarenakan adanya blooming alga pada kolam beton lele.

Berdasarkan grafik diatas diperoleh nilai kecerahan tertinggi pada tanggal 9 Mei 2011 sebesar 100% karena kecerahan perairan mencapai dasar kolam. Sedangkan nilai kecerahan terendah pada tanggal 10  Mei 2011 sebesar 40 mg/l .

Berdasarkan grafik diatas diperoleh nilai kecerahan tertinggi pada tanggal 8 dan 12 Mei 2011 sebesar 67,5 mg/l. Sedangkan nilai kecerahan terendah pada tanggal 10  Mei 2011 sebesar 40 mg/l , dikarenakan pada kolam tradisonal substratnya berupa tanah liat sehingga pergerakan ikan dapat mengakibatkan keruhnya air.

Berdasarkan grafik diatas diperoleh nilai kecerahan tertinggi pada tanggal 5 dan 13 Mei 2011 sebesar 54 mg/l. Sedangkan nilai kecerahan terendah relative sama dikarenakan adanya sedikit tumbuhan air yang tumbuh di permukaan kolam.

Berdasarkan grafik diatas diperoleh berat pakan ikanrelative sama sebesar 54 gram karena diasumsikan ikan masih belum mengalami perkembangan dan pertumbuhan secara signifikan.

Berdasarkan grafik diatas diperoleh berat pakan ikan relative sama sebesar 74 gram karena diasumsikan ikan masih belum mengalami perkembangan dan pertumbuhan secara signifikan.

Berdasarkan grafik diatas diperoleh berat pakan ikan relative sama sebesar 74 gram karena diasumsikan ikan masih belum mengalami perkembangan dan pertumbuhan secara signifikan.

Berdasarkan grafik diatas diperoleh berat pakan ikan relative sama sebesar 31,5 gram karena diasumsikan ikan masih belum mengalami perkembangan dan pertumbuhan secara signifikan.

 

4.3  Analisa Hasil

4.3.1        Pengukuran pH

Pada pengukuran pH dikolam tradisional, didapat hasil 6.Ini berarti kolamnya bersifat asam, karena pH berada dibawah 7.pH yang menunjukkan angka 6 ini termasuk kisaran pH optimum dan dapat digunakan untuk budidaya ikan.

Menurut Seamolec, et al (2009), hubungan antara pH air dan kehidupan hewan (ikan) budidaya yaitu :

pH air Kondisi Kultur
< 4,5 Air bersifat Toksik
5-6,5 Pertumbuhan ikan terhambat
6,5-9 Pertumbuhan Optimal
>9,0 Pertumbuhan Ikan terhambat

 

 

4.3.2        Pengukuran suhu

       Dari Pengamatn yang dilakukan, didapat hasil pengukuran suhu yaitu suhu semi traditional adalah 29 .Suhu optial budidaya antara 28-32 .Jadi suhu yang ada merupakan kisaran suhu yang optimum bagi budidaya ikan.

Menurut Seamolec, et al, (2009), kisaran optimal suhu (umum) adalah 28-32 , maka konsumsi oksigen mencapai 2.2 mg/l berat tubuh/jam. PAda suhu rendah (< 25 ), konsumsi oksigen meningkat 3,2 mg/l berat tubuh/jam.

4.3.3        Pengukuran Kecerahan

       Dari pengmatan yang telah dilakukan pada kolam semi tradisional, didapat data outlet (indikasi air yang keluar dari kolam) adalah 25 cm. Sdangkan paa inlet (indikasi sumber yang masuk dalam perairan) adalah 23 cm.

Nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan meter, nilai ini sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan,dan padatan tersuspensi serta ketelitian seseorang yang melakukan pengukuran. Pengukuran kcerahan sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah, untuk budidaya, kecerahan air diperkirakan adalah > 3 m (KLH dan Akbar dalam Irawan, 2009).

4.3.4        Pengukuran DO

       Pada pengukuran nilai DO kolam beton lele yaitu 18,2 mg/l, beton nila11,9 mg/l, pada kolam tradisional I yaitu 9,104 mg/l, dan pada kolam tradisional II yaitu 8,68 mg/l.

Beberapa species air, banyak yang sensitive terhadap ketersediaan oksigen daripada yang lain, tetapi beberapa analisa umum kadar oksigen diantaranya ;

5-6 ppm Cukup bagi organisme
< 3 ppm Jelek Bagi species air
< 2 ppm Fatal bagi species air

4.3.5        Pengukuran CO2

       Dari praktikum pengujian air sample terhadap CO2 didapat hasil kolam semi tradisional 19,976 mg/l. Sedangkan kolam tradisional 11,9856 mg/l.

Karbondioksida (CO2) yang terkandung didalam air berasal dari udara dan dekomposisi zat organik. Penyimpangan terhadap standard konsentrasi maksimal CO2 agresif dalam air akan menyebabkan terjadinya korosi pada pipa-piapa logam dn mengakinatkan efek toksikologis (Aryani, 2003 dalam Desiandi, et al, 2009).

4.3.6        Pengukuran Ortho-P

       Pada pengukuran Ortho-P dibeberapa kolam didapat hasil sebagai berikut. Kolam tradisional kadar Ortho-P= 2,6, kolam semi tradisional 4,9 mg/l, dan beton nila= 2,2 mg/l,serta beton lele= 2 mg/l.

4.3.7        Pengukuran Amonia

Pada pengukuran kadr ammonia di beberapa kolam didapat hasil sebagi berikut. Pada kolam lele kadar ammonia= 0,32 mg/l, beton nila= 0,13, tradisiona= 0,26 mg/l, dan semi tradisional= 0,16 mg/l.

Hasil penguraian protein dan senyawa-senyawa lain yang mengandung nitrogen itu dpat berupa ammonia. Proses ini dapat terjadi menurut tiga cara, yaitu dengan jalan drainasi, dengan pertolongan enam urease, atau dengan mereduksi nitrat (Dwidjoseputro, 2005).

4.3.8        Pengukuran Nitrat-Nitrogen

            Pada pengukuran kadar nitrat-nitrogen pada beberapa kolam didapatkan hasil sebagai berikut. Pada kolam tradisional= 0,2 mg/l, semi tradisional= 0,2 mg/l, beton nila= 0,1 mg/l, dan beton  lele= 0,2 mg/l.

5. Penutup

5.1 Kesimpulan

            Dalam praktikum dasar – dasar akuakultur yang telah dilakukan dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut.

  • Akuakultur merupakan usaha pengolahan sumber – sumber perikanan yang paling rasional dilakuakn secara buatan atau artifisial dan tidak tergantung.
  • Pengolahan dasar tanah terdiri dari pencangkulan dan perataan, pengapuran, dan pemupukan.
  • Pengapuran bertujuan untuk memberantas bibit penyakit serta memperbaiki kualitas tanah dan menaikkan pH tanah.
  • Dosis kapur yang diberikan sebanyak 20 – 200 gr/m2, tergantung pada pH awal tanah kolam budidaya.
  • Pemupukan merupakan salah atu cara membuat pakan alami yang sangat dibutuhkan oleh ikan.
  • Kualitas air didefinisikan sebagai kesesuaian air untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan.
  • Oksigen terlarut adalah oksigen terlarut yang berada dalam air.
  • Karbon dioksida adalah senyawa kimia yang terdiri dari 2 atom oksigen yangterikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon.
  • pH atau derajad keasaman digunakan untuk menyatakan tingakat keasaman dan kebasaan yang dimiliki suatu larutan.
  • Alkalinitas adalah gambaran kapasitas air untuk menetralkan kation hidrogen.
  • Kecerahan perairan dipengaruhi oleh bahan – bahan halus yang melayang – layang dalam air baik berupa bahan organik seperti plankton, jasad renik, detritus, maupun berupa bahan anorganik berupa partikel lumpur dan pasir.
  • Asam belerang adalah suatu asam anorganik. Terjadinya asam ini dituliskan sebagai berikut.

2H2S + O2             2H2O + 2S

2S + 2H2O + 3O2                  2H2SO4

  • Konsebtrasi amonia yang tinggi di air juga mempengaruhi permeabilitas ikan oleh air dan mengurangi ion hidrogen.
  • Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air.
  • FCR (Feed Convertion Ratio) adalah jumlah pakan yang diberikan dalam 1 periode pemeliharaan ikan.
  • SR (Survival Rate) adalah presentase kehidupan dalam budidaya ikan.
  • GR (Growth Rate) adalah presentase bertambahnya bobot tiap 1 ikan.

5.2 Saran

            Praktikan diharapkan lebih aktif menanyakan hal – hal yang masih belum dimengerti dalam praktikum dasar – dasar akuakultur.Selain itu,  diharapkan asisten lebih dalam memberikan pengarahan saat praktikum berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA

 

Afrianto, Eddy dan Evi Liviawati.1988. Beberapa Metode Budidaya Ikan. Kanisius: Yogyakarta

Agriefishery.2010. Survival Rate.http://ariefishery.blogspot.com, diakses pada tanggal 4 A pril 2011 pukul 08.00 WIB

Alabaster, J.S.1981.Water Quality Criteria For Freshwater Fish. Butterworth : London

Alfiansyah.2011. Pengelolaan Tanah Budidaya.http ://www.alfiansyah.wordpress.com, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 08.10 WIB

Amri, Khairul.2009. Budidaya Udang Windu Secara Intensif. Agromedia Pustaka : Depok

Andayani, Sri.2005.Manajemen Kualitas Air Untuk Budidaya Perairan. UB Press: Malang

Andhika.2009. Salinitas. http:// andhikaprima.wordpress.com/2009/12/18, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 15.00 WIB

Arie.2008.Ketentuan Tanah Yang Baik Untuk Budidaya.http://www.ariewahyudi.blogspot.com, diakses pada tanggal 12 April 2011 pukul 10.00 IB

Arifin.2008.Metode Pengelolaaan Kesadahan.http”//arifin.blogspot.com, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 16.00 WIB

Baird, Donald J.1996.Aquaculture anda Water Resource Management. Blackwell Science : USA

Brotowidjojo, Mukayat D, Djoko Tribawono, dan Eko Mulbyantoro. Pengantar Lingkungan dan Budidaya Air.Liberty : Yogyakarta

Budiharjo.2001.Suhu.http://budiharjo.blogspot.com/2001/01/02, diakses pada tanggal 12 April 2011 pukul 10.00 WIB

Desiandi, Muhammad, Rico Januar Sitonis, dan Hamzah Hasyim. Pemeriksaan Kualitas Air Minum Prima (ZAMP) PDAM Tirta Musi Palembang Tahun 2009

Ditjen.2010. Pengapuran.http://ditjenperikanan.blogspot.com, diakses pada tanggal 12 April 2011 pukul 16.00 WIB

Docstoc.1991. Derajat Keasaman. http:// www.docstoc.com/docs/1991,  diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 12.00 WIB

Dwidjoseputro.2005.Dasar Mikrobiologi. Djambatan : Jakarta

Ekawati, Arning Wilujeng.2005. Budidaya Makanan Alami. UB Press : Malang

Floopy.2011.Pengolahan Lahan.http://www.floopy.blogspot.com, diakses pada tanggal 14 April 2011 pukul 13.00 WIB

Fujaya, Yushinta.2008.Fisiologi Ikan Pasar Pengembangan Teknologi Ikan. PT Rineka Cipta: Jakarta

Handajani, Hang Sri Dwi dan Hatuti.2001.Budidaya Perairan. Boyamedia : Semarang

Hobiikana.2009.Tanah. http://hobiikan.blogspot.com/2009/09, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 11.30 WIB

Hobiikanb.2009.Pertumbuhan.http://hobiikan.blogspot.com/2009/05, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 11.00 WIB

Hobiikanc.2009.Persiapan Kolanm Tanah(Tradisional).http://hobiikan.blogspot.com/2009/05, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 11.40 WIB

Infoagrobisnis.2009.Pemupukan Kolam.http://infoagrobisnis.com, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 10.00 WIB

Jangkaru, Zulkifli.2005.Memelihara Ikan Di Kolam Tadah Hujan. Swadaya : Semarang

Kanisius.2002. macam-Macam Budidaya.http://www.kanisiuswordpress.com, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 10.00 WIB

Kompasiana.2010.Derajat Keasaman(pH).http://teknologi.kompasiana.com/terapan,  diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 11.00 WIB

Marindroa.2011. kecerahan.http://marindro.blogspot.com, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 12.10 WIB

Marindrob.2011.Program Pakan Udang..http://marindro.blogspot.com, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 12.00 WIB

Muir, James F.1996.Aquaculture and Water Resource Management. Blackwell Science Ltd : Australia

Murianto.2009. Menghitung FCR Ikan.Http://indolele.wordpress.com/2009/10/09, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 17.50 WIB

Purwakusuma, Wahyu.2009. Pakan Ikan.http://www.o-fish.com/pakan_ikan/pakan-php, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 18.00 WIB

Raharjo.2003.Kecerahan.http://raharjo.blogspot.com, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 18.00 WIB

Ranoemihardjo, Bambang J.1989.Pengelolaan Air Di Tambak. Direktorat Jenderal Perikanan : Jakarta

Rosy.2009. Pengertian Pertumbuhan.http://rosy46nelli.com/2009/11/22, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 09.00 WIB

Rustidja.1996.masculinisasi Ikan Nila.UB Press : Malang

Santoso, Budi.1993.Budidaya Ikan Mas. Kanisius : Yogyakarta

Simanjuntak, Marojahan.2010. Distribusi Zat Hara Kaitannya Dengan Kesuburan Di Teluk Maya, Libit, Papua Barat. Penelitian Oseanografi.LIPI: Papua

Sinarfals.2011.Oksigen Terlarut Untuk Budidaya.http://sinarfals.blogspot.com/2011/04, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 19.00 WIB

Suryaperdana.2009.Growth Rate.htttp://suryaperdana.blogspot.com, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 10.10 WIB

Suswanto.2009. Ketentuan Tanah yang Baik Untuk  Budidaya.htttp://www.suswanto.blogspot.com, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 13.00 WIB

Taufik ,Ahmad, Erna Ratnawati, dan M. SAMIL R. Yakob.2003. Budidaya Bandeng Secara Intensif. Penebar Swadaya : Semarang

Wawan.2009.Karbon Dioksida.http://wawan-satu.blogspot.com/2009/11, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 09.30 WIB

Wilkinson, Simon.2002.The Use Of Lime, Gypsum, Alum and Potassium Permanganat In Water Quality Management: NACA

Yulfiperius, M. R. Toelihere, R. Affandi, D. S. Sjafei. Pengaruh alkalinitas terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan lalawak, Barbodes sp.Jurnal Iktiologi Indonesia

Yusuf.2009.Kapur Pertanian.http://www.yusufardianto.blogspot.com, diakses pada tanggal 4 April 2011 pukul 15.00 WIB

Zwart, D.R.C.Trivedi dan H.A.M. de Kruijf.1994. Manual On Integrated Water Quality Evaluation.CPCB :Delhi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s