RESUME JURNAL REPRODUKSI IKAN : “SPERMA SEBAGAI VEKTOR TRANSGENESIS PADA IKAN”

Transgenic farm animal production and application

P. Chrenek, A. V. Makarevic h, J. Pivko, J. Bulla

             Selama 3 dekade terakhir ini bioteknologi memiliki tingkat kemajuan umumnya melakukan perubahan tertentu untuk genome. Pada awal tahun 1980-an telah dilakukannya sistem transgenik. Transgenik merupakan penggambaran hewan yang membawa gen eksogen (segmen DNA asing – membangun gen) yang terpadu ke dalam genom mereka. Definisipun terlah diperluas yaitu mencakup binatang yang dihasilkan dari manipulasi molekul DNA genomic endogen, termasuk semu teknik injeksi dari DNA. Jangkauan teknologi transegenesis pun sudah diperluas  untuk organism air seperti salmon dan ikan zebra. Transfer gen dapat direalisasikan melalui :

  1. Penciptaan hewan transgenik melalui gonad
  2. Penciptaan hewan transgenik melalui sel-sel germinal
  3. Penciptaan hewan transgenik melalui dibuhi telur atau embrio

Ada beberapa metode utama yang digunakan untuk pembuatan transgenic hewan, antara lain :

  1. DNA injeksi tunggal

Metode ini melibatkan injeksi langsung dari sebuah konstruksi gen yang dipilih (sebuah gen tunggal atau kombinasi gen) dari anggota lain dari spesies yang sama atau dari spesies yang berbeda, ke dalam pronukleusyang sudah dibuahi ovum. Ini adalah salah satu metode pertama yang terbukti efektif pada mamalia.

  1. DNA injeksi ganda

Pada prinsipnya sama seperti injeksi dari DNA asing ke dalam pronukleus yag terletak pada metode memfasilitasi transfer gen asing ke dalam kedua pronuclei telur yang telah dibuahi.

  1. Injeksi sitoplasma
  2. Embrio stem cell-dimediasi transfer gen
  3. Retrovirus (adenovirus)-dimediasi transfer gen
  4. Penciptaan hewan transgenik melalui sel-sel somatik

Dalam transfer gen somatik, genom penerima berubah, namun perubahan itu tidak diteruskan ke depan generasi.

 Dari uraian singkat tentang dasar transgenik,maka dapat dilihat kembali transgenic pada ikan dari review jurnal-jurnal berikut ini :

 =========================================================

Effect of an osmotic differential on the efficiency of gene transfer by electroporation of fish spermatozoa

Jung-Ha Kang, Goro Yoshizaki, Osamu Homma, Carlos A., Fumio Takashima

             Pada ikan, transfer gen dapat dicapai paling baik dengan injeksi ke dalam sitoplasma telur yang dibuahi. Namun karena korion yang keras dari banyak spesies sehingga memakan waktu dan sama sekali tidak praktis. Maka dari itu metode elektroporasi bisa mengatasi beberapa masalah transfer gen ke dalam telur. Elektroporasi memanfaatkan serangakain elektrik untuk menyerap membrane sel sehingga memungkinkan masuknya molekul DNA ke dalam sel. Selain itu sel-sel sperma dapat digunakan sebgai pembawa untuk memperkenalkan DNA asing ke dalam telur, sehingga memungkinkan produksi missal transgenic hewan. Kondisi osmotik sperma selama elektroporasi, antara faktor-faktor lainnya, adalah satu parameter yang memiliki potensi untuk mempengaruhi efisiensi transfer gen. Spermatozoa ikan dengan fertilisasi eksternal umumnya immotile di testis dan dalam plasma, tapi menunjukkan ledakan ejakulasi motilitas segera setelah masuk kedalam air pada pemijahan. Inisiasi motilitas dipicu oleh perubahan faktor-faktor fisik atau kimia seperti penurunan atau peningkatan osmolalitas. Hyposmotic,pengobatan dapat digunakan untuk meningkatkan penyerapan media ekstraseluler ke dalam sel jika spermatozoa dapat diadakan diam. Dengan demikian, kami berusaha untuk mengeringkan sperma disolusi hiperosmotik dan kemudian rehydrate dalam larutan hyposmotic sampai kondisi isoosmotik ke cairan mani asli tercapai. Kami mengantisipasi penggunaan ini, proses selama elektroporasi akan mempertahankan kesuburan sperma dan memfasilitasi penyerapan DNA asing. Penelitian ini menguji kemungkinan ini dengan menggunakan sperma ikan mas Cyprinus carpio, yang motilitas dipicu oleh kondisi hyposmotic.

            Adapun bahan dan metode yang dilakukan yaitu :

  1. Sumber bahan dan koleksi gamet

Disiapkan 6 jantan dan 3 betina ikan mas berumur antar 5-10 tahun. Untuk betina dilakukan penyitripingan begitu juga dengan jantan, dilakukan dibawah anestesi dan disimpan di atas es pengawetan sampai hari H. Kualitas air mani diperiksa segera setelah pengumpulan dan sesaat sebelum percobaan oleh pengamatan motilitas di air tawar. Jika ada spermatozoa yang immotile segera dibuang.

  1. Pengencer sperma dan penentuan motilita spermatozoa

Tiga Pengencer dengan tekanan osmotik yang berbeda? Isoosmotik, hiperosmotik, dan hypos-MOTIC dengan cairan mani dari ikan mas

  1. Spermatozoa dehidrasi dan rehidrasi

Sperma Dehidrasi diperoleh dengan inkubasi pada rasio 1:4 selama 1 jam pada suhu 0o C. Untuk rehidrasi, sperma dehidrasi (sperma-2 x CCSS campuran)  adalah dicampur dengan volume yang sama dari 0,5 x CCSS, menghasilkan medium sekitar isos- MOTIC dengan cairan mani yang asli (sekitar 330 mOsm/kg).

  1. Plasmid PRSV-CAT DNA persiapan dan kondisi elektroporasi
  2. Viabilitas dan 32P-PRSV-CAT DNA konten sperma electroporated
  3. PRSV-CAT DNA dimasukkan kedalam telur
  4. Analistik statitik

Maka didapatkan hasil

  1. Spermatozoan dehidrasi dan rehidrasi
  2. Viabilitas dan 32P-PRSV-CAT DNA konten sperma electroporated
  3. PRSV-CAT DNA dimasukkan kedalam telur

Kemudian didapatkan kesimpulan bahwa efisiensi memperkenalkan DNA asing ke Telur ikan mas melalui elektroporasi sperma dapat ditingkatkan jika sperma awalnya dehidrasi dan kemudian direhidrasi selama elektroporasi. Bukti pentingnya sebuah osmotic diferensial untuk penggabungan DNA dalam sperma lebih menarik dalam studi gen mentransfer ke telur dan kurang jelas dalam studi penyerapan DNA menjadi spermatozoa. Observasi ini memberikan dukungan kepada pendapat bahwa fluks osmotically diinduksi selama elektroporasi dapat memainkan peran utama dalam menentukan pengambilan DNA asing ke dalam sperma. Sayangnya, kami tidak mengejar inseminasi telur dengan sperma nonelectroporated direhidrasi dengan adanya DNA dan oleh karena itu kita tidak dapat memastikan jika diferensial osmotik per se dapat digunakan untuk menghasilkan transgenik ikan. Ikan diproduksi dengan sperma electroporated dibandingkan dengan yang diperoleh dengan tidak diobati sperma, tapi masih baik dalam tingkat yang dapat diterima untuk produksi benih. Juga, mungkin mungkin untuk meningkatkan angka ini dengan minimalisasi kerusakan yang ditimbulkan pada sperma sel selama elektroporasi. Misalnya, gangguan motilitas diamati di electroporated sperma dalam kaitannya dengan sperma segar, dan lebih jelas dalam sperma electroporated dalam kondisi isoosmotik daripada sperma electroporated di hipertonik dan rehidrasi kondisi. gen asing dapat secara efisien ditransfer ke telur ikan oleh elektroporasi selama rehidrasi sperma dehidrasi. Pendekatan dirancang dalam penelitian ini memiliki potensi untuk transfer gen massal di finfish dan kerang.

 =========================================================

Electroporated Sperm Mediation of a Gene Transfer System for Finfish and Shellfish

HUAI-JEN TSAI

             Sebuah sistem transfer gen memberikan pendekatan yang kuat untuk mempelajari regulasi gen in vivo dan untuk memperoleh transgenik varietas hewan yang memiliki genetik khusus sifat. Banyak teknik telah dikembangkan untuk memperkenalkan DNA molekul ke dalam embrio. Dalam hewan air, injeksi adalah metode yang paling popular. Dibandingkan dengan pekerjaan membosankan injeksi, elektroporasi dianggap menjadi alternatif lebih mudah. karena elektroporasi telur dibuahi dapat menghasilkan 10 sampai 100 kali lebih besar dari angka bisa injeksi. Namun, gen efisiensi transfer masih tidak cukup tinggi untuk menangani jumlah sangat besar telur melahirkan dalam sangat singkat waktu oleh spesies akuakultur. Ada beberapa keuntungan dalam menerapkan spermmediated Teknik transfer gen pada ikan. Pertama, hal ini Teknik dianggap massa”” transfer gen. Kedua, teknik ini mengatasi beberapa kelemahan dari konvensional transfer gen sistem yang dihasilkan dari karakteristik telur, seperti kekaburan, daya apung kekakuan,, terlihat pronuclei, dan chorion tangguh. Ketiga, DNA asing harus ditransfer ke inti. Jika Telur yang dibuahi electroporated dengan DNA asing, DNA fragments memiliki kesempatan lebih besar untuk ditransfer ke beberapa tempat lain selain blastodisc karena yang Volume sangat kecil dalam telur yang telah dibuahi. Keempat, sperma ikan mudah untuk menangani karena hanya menambahkan air sudah cukup untuk mengaktifkannya. Kelima, sperma air hewan dapat disimpan oleh kriopreservasi sehingga diperlakukan sperma selalu siap untuk penggunaan.

            Adapun bahan dan metode yang dilakukan yaitu

  1. Preparasi DNA, gamet dan elektroporasi

Disiapkan abalone yang sudah matang gonad. Suspense sperma yang terkandung (1-2)x108 sel/ml. Plasmid disusun oleh CsClethidium bromida ultrasentrifugasi. Elektroporasi dilakukan dalam larutan elektroporasi 100-µl mengandung 107 sperma dengan DNA molecules. Setelah sperma yang electroporasi, diikuti dengan fertilisasi invitro.

  1. Ekstrasi genomic DNA, Analisa Southern blot dan PCR

Genomic DNA diisolasi dari sperma dan terisolasi dari larva dan ikan dewasa yang dianalisa dengan cara Southern blot dan PCR.

  1. Membalikkan Transcriptase-PCR(RT-PCR) dan Northern blotting

RT-PCR dilakukan dalam larutan 50 µl- terdiri dari 20-30 template ng, 50 pmol masing-masing primer, 250 mM dNTP masing-masing, dan 0,5 U Taq DNA polimerase. PCR terdiri dari 35 siklus denaturasi pada 95 ° C selama 50 detik, didinginkan pada 50 ° C selama 1 menit, dan ekstensi pada 72 ° C selama 1 menit.

  1. Pengujian Transient Chloramphenical acetyltransferase (CAT)

Sekumpulan dari 400 trochophore – tahap larva dikumplkan, dicuci, dan dianalisis.

            Kemudian hasil dan pembahasannya yaitu sel sperma yang diinkubasi dengan molekul DNA asing tanpa elektroporasi hasilnya negative. DNA genom sperma abalone dikumpulkan (106 sel)  diekstraksi dan dianalisis oleh PCR dan Southern  blotting. Hasil juga menunjukkan bahwa 138-bp PCR produk dan band yang positif, yang berasal dari transgen, hadir dalam sperma electroporated dengan DNAmolecules asing. Ditemukan bahwa sperma abalone ketika dilakukan dengan tidak bertahap kehilangan mobilitas  mereka ketika amplitude meningkat dari 2 sampai 10 kV. Adanya pengaruh kekuatan medan ketika kekuatannya meningkat dan konsentrasi DNA pada tingkat penetasan, kelainan dan gen.

 =========================================================

Transgene transmission in South American catfi sh (Rhamdia quelen) larvae by sperm-mediated gene transfer

TIAGO COLLARES, VINICIUS FARIAS CAMPOS, FABIANA KOMMLING SEIXAS, PAULO V CAVALCANTI, ODIR A DELLAGOSTIN, HEDEN LUIZ M MOREIRA and JOAO CARLOS DESCHAMPS

 1.

  • Latar Belakang

            Saat ini perlu adanya pengembangan metode transfer gen secara sederhana untuk digunakan dalam kegiatan akuakultur. Selama beberapa tahun terakhir, spermatozoa telah diteliti untuk melayani sebagai vektor untuk gen transfer teknologi hewan transgenik dan beberapa yang berbeda pendekatan telah dikembangkan. menggambarkan transmisi ditingkatkan hijau fluorescent protein (EGFP) transgen di lele perak oleh sel sperma mengalami SMGT dengan membandingkan osmotik diferensial dan / atau elektroporasi dan inkubasi dengan adanya atau tidak adanya plasma mani sebagai sarana meningkatkan tingkat embrio transgenik.

2. Bahan dan metode

2.1 Persiapan vektor pEGFP-N1

pEGFP-N1 plasmid dibeli dari CLONTECH (Mountain View, CA, USA). Panjang keseluruhannya adalah 4,7 kb. EGFP diungkapkan di bawah kendali CMV promotor. EGFP memiliki puncak eksitasi tunggal pada 488 nm dan puncak maksimal emisi pada 507 nm.

2.2 Pengumpulan dan manipulasi gamet

Percobaan dilakukan dengan menggunakan enam lele jantan dewasa  dengan berat badan rata-rata 534 g dan rata-rata Panjang total dari 38 cm. Hewan yang dipelihara di UFPel Budidaya Station, di 500 fi l tangki bre dengan air tertutup sirkulasi. Human chorionic gonadotropin (hCG) pada 400 UI / kg digunakan untuk menginduksi spermiation artifi finansial. Setelah 8 jam induksi, air mani dikumpulkan dengan immobilisasi dan membutakan hewan dengan handuk ed humidifi untuk menghindari stres dan cedera. Pori urogenital dikeringkan dengan handuk kertas untuk mengurangi kemungkinan kontaminasi dengan air, kotoran atau urine, dan aktivasi sperma konsekuen dengan NaCl (50 mOsm / kg). Semen disedot dengan  jarum suntik (5.0 ml), disimpan dengan benar diidentifi kasi 15 ml Falcon tabung, dan dipertahankan pada 8 º C selama transportasi ke Federal University of Pelotas Biotechnology Center, di mana perawatan dilakukan.

2.3 Pengencer Sperma

Tiga Pengencer dengan osmolalities yang berbeda (isoosmotik,) hiperosmotik dan hyposmotic digunakan.

1 – dehidrasi dan rehidrasi (DR), pengobatan

2 – dehidrasi, rehidrasi dan elektroporasi (DRE), pengobatan

3 – elektroporasi saja (E), pengobatan

4- Inkubasi dengan plasma seminal (INC), dan pengobatan

5- Inkubasi tanpa adanya plasma seminal (INCSP).

Kontrol terdiri dari sampel semen segar diencerkan dalam isoosmotik media tanpa DNA eksogen. Kering sekali sperma diperoleh dengan inkubasi di hiperosmotik (595 mOsm / kg) lele Pengencer selama 1 jam pada 5 º C. Untuk rehidrasi, sperma dehidrasi dicampur dengan volume yang sama hyposmotic (125 mOsm / kg) lele Pengencer yang mengandung DNA asing, menghasilkan media yang isoosmotik untuk uid fl asli mani pada sekitar 320 mOsm / kg. DR sampel sperma diserahkan ke elektroporasi. Ini adalah dilakukan dengan 3,0 V kapasitansi, 200 ohm dan 2,5 kV untuk semua electroporated sampel menggunakan Electroporator MicroPulser. INC pengobatan dilakukan dengan inkubasi dalam sperma: kompleks isoosmotik media DNA pada rasio 1:1 selama 1 jam pada 5 º C. Untuk pengobatan INCSP, sampel yang dicuci dengan sentrifugasi (500 × g selama 10 menit pada 5 º C) untuk menghapus plasma mani.

2.4 Morfologi Sperma

Morfologi sperma diamati dari mikroskop yang diusulkan adalah divisualisasikan dengan memindai electron mikroskop untuk mengevaluasi integritas sperma dan menentukan dimensi seluler dari spermatozoa spesies ini. Semen dimasukkan ke gelas penutup dan dicampur dengan 2,5% glutaraldehid dalam air. Setelah tercampur, ditambah 1% osium tetroksida, dehidrasi dengan etanol dinilai dan dikeringkan dengan metode titik kritis, mereka diamati di bawah mikroskop elektron.

2.5 Fertilisasi in vitro

Pada motilitas, sperma station (SM) dan TAD analisis setelah perawatan dan transportasi yang diukur. Perempuan yang sebelumnya diinduksi diekstrusi untuk koleksi telur. Ini ditimbang dan dibagi ke piring kaca untuk fertilisasi dengan sperma dari setiap perlakuan. Sekitar 9000 telur yang digunakan dalam setiap perlakuan (3000 telur per pengulangan), sebesar 54 000 telur. Tiga ribu telur yang dicampur dengan 1 ml air mani diobati, diaduk dengan tongkat kaca dan kemudian diaktifkan dengan 150 ml aktivasi Solusi (NaCl 50 mOsm / kg). Setelah pembuahan, telur yang diselenggarakan dalam inkubator terendam, di kolam renang dengan air benar dikontrol untuk pengembangan embrio pada standar suhu (23 º C), pH (7,6), CO2 (0,5%), alkalinitas (21%) dan saturasi oksigen (75%).

2.6 Evaluasi ekspresi EGFP Larva menetas dipertahankan dalam benar dikontrol di kolam renang selama 96 jam pasca menetas pasca. Setelah 100 jam terjadi pembangunan embrio, berukuran sekitar 0,8 cm, dievaluasi untuk protein gen hijau uorescent (GFP) Ekspresi bawah mikroskop uorescence. Sembilan puluh hewan per perlakuan dievaluasi. Semua hewan yang disajikan setiap variabel tingkat ekspresi selama analisis fl uorescence dianggap positif untuk EGFP.

2.7 PCR dan analisis sekuensing Dua puluh dari 90-hari hewan dari setiap perlakuan yang secara acak dipilih untuk ekstraksi DNA genomik dari otot jaringan. DNA diperoleh oleh PureLink ™ DNA Genomic Purifi kation Kit. Polymerase chain reaction (PCR) dilakukan dengan pEGFP-N1-spesifik c oligonukleotida (5′-CGGGACTTTCCAAAATGTCG -3 ‘ dan 5’-GAAGATGGTGCGCTCCTGGA -3 ‘) untuk memperkuat 500 pasangan basa (bp) fragmen. Reaksi PCR dilakukan dalam Mastercycler gradien termal cycler diprogram untuk langkah denaturasi awal (2 menit pada 94 ° C) diikuti oleh 30 siklus dari 1 menit pada 94 ° C, 1 menit pada 50 ° C, dan 1 menit pada 72 ° C. Siklus terakhir diikuti dengan inkubasi dari 7 menit pada 72 ° C. Sampel kemudian disimpan pada suhu -20 ° C.

2.8 statistik analisis ANOVA digunakan untuk mengevaluasi efek dari perawatan di SM, TAD, pemupukan tingkat (FR), dan tingkat penetasan (HR), diikuti dengan uji Duncan untuk perbandingan berarti (SAS Institute Inc, Cary, NC).

3. Hasil

3.1 Parameter Reproduksi invitro

Analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan memiliki signifikan bisa berpengaruh (P <0,05) terhadap motilitas, TAD, FR dan HR.

3.2 Motilitas Sperma

DRE pengobatan mengakibatkan parameter motilitas tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol (P <0,05). Ini adalah mungkin karena mantan refl dari diferensial osmotik ditambah dengan elektroporasi yang mempromosikan reorganisasi yang plasma membran dengan aktivasi natrium dan kalium pompa, motilitas sperma dan merangsang aktivitas sel. Motilitas pada kelompok perlakuan DR tidak berbeda dari yang di kelompok kontrol, tetapi berbeda ketika dibandingkan dengan kelompok lain. Kelompok elektroporasi menunjukkan signifikan hilangnya bisa motilitas dibandingkan dengan kontrol, DR DRE dan kelompok, namun, tidak ada Perbedaan bila dibandingkan dengan perlakuan inkubasi Kelompok dengan adanya atau tidak adanya plasma mani dan DNA asing. Kami mengamati bahwa penghapusan protein plasma mani, serta konstituen mani lainnya, dipromosikan kerugian signifikan tidak bisa motilitas pada kelompok INCSP (P <0,05). Berdasarkan koefisien korelasi Pearson coeffi, itu adalah mungkin untuk mengamati korelasi signifikan antara tidak bisa motilitas x TDA dan motilitas x FR, tetapi tidak antara motilitas dan SDM. Hal ini menunjukkan bahwa faktor-faktor lain selain kehadiran DNA asing dari HR.

3.3 Waktu durasi aktivitas (TAD)

Durasi untuk spermatozoa motil tetap, adalah penting karena lamanya waktu bahwa spermatozoa berinteraksi dengan gamet betina selama proses pembuahan. Statistik analisis untuk parameter ini memisahkan perawatan berbeda signifikan kelompok. Pada TAD untuk kelompok kontrol (217,0 ± 9,0 s) lebih tinggi dari itu untuk kelompok yang menjalani pengobatan lain (P <0,05). Tidak ada perbedaan TAD antara DR dan Dre kelompok perlakuan. Perlakuan E berikut TAD adalah signifi kan lebih tinggi bila dibandingkan dengan INC dan Perawatan INCSP, namun, itu signifi kan lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan DR, Dre dan kontrol. Tingkat rendah TAD (44,6 ± 5,5 s) diamati pada kelompok perlakuan INCSP. Penghapusan konstituen dari hasil plasma mani dalamvhilangnya sumber energi untuk mempertahankan motilitas sperma.vItu mungkin untuk mengamati korelasi signifikan antara tidak bisa TAD × motilitas, TAD × FR dan TAD × HR.

3.4 Dalam tingkat fertilisasi in vitro (FR)

Analisis statistik untuk parameter FR memisahkan perawatan menjadi tiga kelompok signifi kan berbeda. Berikut FR DRE pengobatan (90,3 ± 0,58%) melakukan tidak berbeda dari kontrol (89,0 ± 5,29%), tetapi berbeda dari yang dari perawatan lain. DR pengobatan menghasilkan FR lebih rendah (78,0 ± 2,65%) dibandingkan DRE dan control perawatan tetapi signifi kan lebih tinggi bila dibandingkan dengan perawatan lain, yang tidak berbeda antara sendiri (E = 64,6 ± 5,03%, INC = 65,3 ± 4,16% dan INC SP = 69,6 ± 0,58%). Efek ini mungkin karena kelelahan seluler akibat dari peningkatan motilitas karena osmotic diferensial ditambah elektroporasi, yang dapat diamati dalam TAD dari DRE dan kelompok kontrol ..

3.5 Ratio Penetasan  (HR)

HR embrio adalah persentase embrio yang muncul dari telur dibuahi. Untuk parameter ini, dua kelompok dengan a signifikan bisa statistik perbedaan yang diamati. Itu kontrol, dan DR DRE kelompok perlakuan tidak berbeda diantara mereka, namun mereka berbeda dari E, INC dan INCSP kelompok perlakuan, yang lagi-lagi tidak berbeda antara sendiri. Tingkat penetasan meningkat ketika diferensial osmotik diterapkan pada sel sperma, yang menunjukkan bahwa elektroporasi tidak perlu untuk meningkatkan tingkat ini. Inkubasi sel sperma / DNA, dengan adanya atau tidak adanya plasma mani dalam kondisi isoosmotik, menunjukkan efek yang sama untuk parameter ini.

3.6 Morfologi Spermatozoa

Morfologi data, sebelumnya tidak dipublikasikan, yang ciri morfologi spermatozoa, diukur: kepala dengan diameter 1 m dan panjang 2 m, ekor dengan diameter 120 nm dan panjang dari 20 pM. Kehadiran akrosom yang tidak diamati dalam sel-sel ini. Morfologi sperma menunjukkan aglutinasi sel dengan perawatan E dan INCSP, yang tidak diamati dengan perawatan lain, tapi ada tanpa kehilangan integritas dengan semua perawatan. Sperma patologi diamati pada 20% dari semua sampel dianalisis, yang dapat diterima. Ini adalah hasilnya prosedur yang dilakukan untuk manipulasi sperma dan cedera disebabkan oleh perawatan. Namun, hal ini tidak mempengaruhi fertilisasi proses pengobatan masing-masing.

3.7 ekspresi EGFP Transient dan analisis PCR

Semua perawatan yang mampu menghasilkan hewan dengan derajat yang berbeda ekspresi GFP transien otot dan / atau saraf jaringan, kecuali untuk kelompok control (fi gurasi 2). Sebanyak 44% (40/90) dan 63% (57/90) dari transgenik fi sh dari DR dan kelompok perlakuan DRE diamati, masing-masing. Kelompok-kelompok ini tidak berbeda signifi kan (P> 0,05), menunjukkan bahwa E tidak meningkatkan tingkat ekspresi. Selain itu, hasil pengobatan DR tidak berbeda dengan perlakuan E (34%, 31/90), menunjukkan bahwa diferensial hanya osmotik dapat mempromosikan pengambilan DNA asing dan menentukan ekspresi yang sama tingkat, akibatnya, tidak perlu menggunakan elektroporasi peralatan. Pengobatan INCSP mengakibatkan tingkat ekspresi (38%, 34/90) yang tidak berbeda dari pengobatan dengan E, menunjukkan bahwa penghilangan unsur biologis plasma mani dapat menyebabkan peningkatan penggabungan DNA asing tanpa membutuhkan peralatan canggih. INC pengobatan menghasilkan tingkat ekspresi yang lebih rendah, dengan 8% (7/90) dari hewan mengekspresikan GFP. Hal ini dapat dijelaskan oleh adanya protein menghambat dan DNases dalam mani plasma (data tidak ditunjukkan). PCR analisis mengkonfirmasi kehadiran transgen dalam DNA diekstraksi dari kelompok perlakuan yang berbeda, kecuali kelompok Kontrol. Sampel kontrol DNA Semuanya negatif. PCR produk, sesuai dengan 500 bp dari pEGFP-N1 urutan vektor, terdeteksi pada 8 dari 20 (40%), 12 dari 20 (60%), 5 dari 20 (25%), 1 dari 20 (5%) dan 5 dari 20 (25%) fi sh dari DR, DRE, E, INC dan INCSP pengobatan kelompok, masing-masing. DNA asing tidak terdeteksi dalam dari 20 ikan kontrol yang diperiksa. Perbedaan dalam PCR positif antara tingkat DR dan DRE, serta antara E dan INCSP, dan DR dan E kelompok tidak signifikan bisa (P> 0,05), tetapi antara Dre dan kelompok E itu sangat signifikan tidak bisa (P <0,05).

 4. Diskusi

Dalam studi ini, kami telah menunjukkan bahwa spermatozoa dapat berhasil dimanipulasi untuk menghasilkan ikan transgenik , setelah menerapkan diferensial osmotik diikuti oleh elektroporasi atau tidak, atau melalui inkubasi pendek dengan DNA asing di hadapan atau tidak adanya plasma mani. Namun, perbedaan statistik yang penting diamati dengan semua perawatan. Kami menunjukkan bahwa pengobatan yang digunakan dalam penelitian ini dapat mempengaruhi parameter reproduksi. SM meningkat pada kelompok DRE bila dibandingkan dengan kontrol dan kelompok perlakuan lainnya. Sebaliknya,sedikit penurunan dalam SM setelah elektroporasi spermatozoa. Memang, TAD, FR dan HR muncul untuk mengikuti pola yang sama seperti yang ditunjukkan oleh tingginya pada FR dan HR setelah pengobatan dengan DRE. Hasil ini menunjukkan bahwa spermatozoa lele perak bisa mentolerir elektroporasi dari DR, namun penelitian lebih lanjut harus dilakukan untuk menjelaskan mekanisme ini. Sebaliknya, morfologi sperma tampaknya tidak akan terpengaruh oleh pengobatan. Kita telah menunjukkan bahwa elektroporasi tidak perlu, karena tidak ada perbedaan signifikan antara tidak ada DR dan kelompok perlakuan DRE (P> 0,05), meskipun terjadi perbedaan secara numerik tapi menguntungkan untuk DRE diamati. Fluoresensi mikroskop, PCR dan sequencing hasil analisis menunjukkan bahwa transgen memasuki sel keturunan mengikuti semua perawatan. Ada atau tidak adanya protein plasma seminal sangat mengganggu SMGT. Dalam penelitian ini, adalah mungkin untuk mengamati ini melalui hasil parameter reproduksi. Itu telah menunjukkan bahwa keberadaan plasma seminal protein penting untuk pemeliharaan kualitas sperma ikan. Penggunaan ikan di penelitian daerah tertentu  dapat mengurangi secara signifikan eksploitasi mamalia, menurunkan biaya dan mempercepat proses penelitian. Selain itu, fi sh dapat berguna untuk memantau kesehatan potensial bahaya yang terkait dengan paparan bahan kimia di perairan tersebut lingkungan. Singkatnya, penelitian kami menunjukkan transgen transmisi DNA eksogen pada  larva lele melalui teknologi SMGT.

DAFTAR PUSTAKA

Chrenek, P., A. V Makarevich, J. Pivko dan J. Bulla. 2010. Transgenic Farm Animal Production and Application. Journal Animal Science 43, 2010 (2) : 45-49.

 Collares, T., Vinicius, Fabiana, Paulo, Odir, Heden dan Joao. 2010. Transgene Transmission in south American catfish (Rhamdia quelen) larvae by Sperm-Mediated Gene Transfer. Journal Biosci 35(1) : 39-47.

Kang, Jung-Ha, Goro Yoshizaki, Osamu Homma, Carlos A. dan  Fumio Takashima. 1999. Effect of an osmotic differential on the efficiency of gene transfer by electroporation of fish spermatozoa. Aquaculture 173 (1999) : 297–307.

Tsai, Huai. 2000. Electroporated Sperm Mediation of a Gene Transfer System for Finfish and Shellfish. Molecular Reproduction and Development 56:281-284.

MAKALAH : “FLEXYBACTER COLUMNARIS”

  1. PENDAHULUAN

 1.1  Latar Belakang

Menurut Akinyemi et al., (2011), Ikan digunakan terutama sebagai sumber protein dalam diet. Ikan juga sering terinfeksi bakteri yang beragam sehingga dapat menyebabkan bahaya bagi kesehatan ikan ataupun manusia,jadi perlu adanya penangan ikan yang benar sampai ke konsumen akhir. Adanya hubungan yang tinggi antara pathogen dengan manusia sangat potensial  terjadi di  ikan air tawar menunjukkan bahwa jika ikan ditangani dengan atau jika dikonsumsi bawah dimasak atau mentah mereka dapat menyebabkan berbagai penyakit yang rentan individual. Oleh karena itu, kebutuhan untuk mengetahui pentingnya kesehatan masyarakat dari bakteri muncul.

Menurut Kismiyati et al., (2009), usaha perikanan di Indonesia saat ini telah berkembang dengan pesat terutama dalam bidang budidaya, baik sektor ikan hias maupun ikan konsumsi. Timbulnya serangan penyakit merupakan hasil interaksi yang tidak seimbang antara lingkungan, kondisi inang (ikan) dan pathogen (penyakit). Interaksi yang tidak seimbang ini menyebabkan stres pada ikan, sehingga mekanisme pertahanan tubuh menjadi lemah dan akhirnya mudah diserang penyakit

Lingkungan perairan, khususnya perairan budidaya dan eutrophik,menyediakan habitat alami bagi pertumbuhan dan proliferasi bakteri karena tersedianya nutrien-memproduksi bahan organik yang meningkatkan pertumbuhan bakteri. Beberapa bakteri akan tumbuh dan berkembang pesat jika terdapat bahan organik sebagai sumber nutrien, sementara yang lainnya lebih bersifat memilih makanannya dan mampu bertahan hidup dilingkungan dengan cara menempel diinangnya. Selain itu juga, salinitas air, atau media kultur, berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan beberapa bakteri. Flexibacter columnaris merupakan bakteri yang banyak ditemukan menyerang ikan channel catfish ( Ictalurus punctatus). Columnaris termasuk infeksi kulit akut hingga kronis yang menyerang ikan, khususnya chanell catfish. Sinonim dari columnaris termasuk  cotton wool dan mouth fungus.

Faktor-faktor yang menunjang berkembangnya penyakit adalah kualitas air kolam yang buruk, kandungan bahan organic yang tinggi di dalam air kolam, perubahan musim kering (kemarau) ke musim hujan, pakan yang tidak cukup dan kualitasnya jelek dan adanya infeksi oleh parasit.

Menurut Irianto (2005), sebagian bakteri bersifat pathogen oportunistik. Pada keadaan biasa bakteri tersebut ada pada lingkungan perairan atau tubuh ikan tanpa menimbulkan penyakit, tetapi akan menimbulkan penyakit bahkan kematian manakala terjadi stress atau daya tahan tubuh ikan menurun. Contoh bakteri oportunis tersebut antara lain : Vibrio, Pseudomonas dan Flexibacter.

 1.2  Tujuan

Penulisan makalah ini bertujuan agar pembaca mengetahui tentang penyakit Columnaris yang disebabkan oleh bakteri Flexibacter columnaris serta dapat mencegah yang disebabkan bakteri tersebut.

2. PEMBAHASAN

 2.1  Pengertian

Menurut Bernardet (1989), Penyakit ‘Columnaris’, yang disebabkan oleh bakteri patogen ‘Flexibacter columnaris’, adalah penyakit yang banyak menyerang ikan air tawar dan memiliki distribusi di seluruh dunia. Strain virulensi rendah bakteri patogen untuk menjadi salmonids pada suhu air melebihi 20 ° C, sedangkan strain virulensi tinggi mungkin patogen pada suhu di atas 15 ° C. Tingkat mortalitas berkisar dari ca 10 sampai 100% tergantung pada suhu air.

2.2  Morfologi

Menurut Nofiani dan Gusrizal (2004), bakteri gram negatif lebih resisten terhadap obat-obatan dibandingkan dengan bakteri gram positip. Karena bakteri gram negatif mempunyai sistem efflux aktif untuk obat-obatan, yaitu multidrug, multication, atau nodulation signal efflux complexes. Kemungkinan lain adalah adanya gen resisten tetracyclin yang terdapat di dalam sel. Gen ini masuk ke dalam sel bersamaan dengan mer operon.

Menurut Purwani et al., (2009), mikroba gram negatif  mempunyai ketahanan yang lebih baik terhadap senyawa antimikroba. Mikroba gram negatif memiliki sistem seleksi terhadap zat-zat asing yaitu pada lapisan lipopolisakarida. Struktur dinding sel mikroba gram negatif relatif lebih kompleks, berlapis tiga yaitu lapisan luar yang berupa lipoprotein, lapisan tengah yang berupa lipopolisakarida dan lapisan dalam berupa peptidoglikan.

2.3  Gejala Klinis

Menurut Bernardet (1989), tanda-tanda klinis dan lesi biasanya terbatas pada permukaan tubuh dan mengambil bentuk erosi sln dan nekrosis insang. Lesi karakteristik ‘saddleback’ dapat ditemukan dalam kasus maju di lele. Infeksi sistemik dapat terjadi pada kasus yang berat, tergantung pada virulensi dari strain. Di Perancis, bakteri meluncur biasanya diisolasi dari lesi eksternal ikan yang sakit. Klasifikasi saat ini kelompok organisme membuat identifikasi yang akurat sulit, di terbaik. Selain itu, Flexjbacter columnaris pernah diidentifikasi di Perancis.

Menurut Irianto (2005), gejala-gejala klinis antara lain terjadinya peradangan kulit disertai dengan bintik-bintik putih kecil pada sirip ekor dan selanjutnya meluas ke arah kepala. Sirip ekor dan sirip anal dapat mengalami erosi berat dan kulit akan mengalami borok-borok bewarna putih keruh atau kelabu. Pada umumnya insang mengalami kerusakan yang ditandai dengan nekrosis pada ujung distal lamella insang dan dapat meluas kesuluruh lamellae insang.

 2.4  Penyebab Munculnya Penyakit

Menurut Irianto (2005), infeksi F. colimnaris seringkali terkait dengan kondisi stress yang umumnya ditimbulkan oleh suhu air tinggi (25-32oC), padat tebaran tinggi, luka dan kualitas air buruk (kandungan oksigen rendah dan peningkatan ammonia bebas).

Menurut Kismiyati et al., (2009) faktor yang menyebabkan timbulnya penyakit antara lain disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan virus. Sementara faktor kualitas air yang buruk, pakan, oksigen menurun dapat mempengaruhi adanya penyakit.

3. PENUTUP

 3.1 Kesimpulan

  •  Usaha perikanan di Indonesia saat ini telah berkembang dengan pesat terutama dalam bidang budidaya, baik sektor ikan hias maupun ikan konsumsi. Timbulnya serangan penyakit merupakan hasil interaksi yang tidak seimbang antara lingkungan, kondisi inang (ikan) dan pathogen (penyakit).
  •  Faktor-faktor yang menunjang berkembangnya penyakit adalah kualitas air kolam yang buruk, kandungan bahan organic yang tinggi di dalam air kolam, perubahan musim kering (kemarau) ke musim hujan, pakan yang tidak cukup dan kualitasnya jelek dan adanya infeksi oleh parasit.
  •  Penyakit ‘Columnaris’, yang disebabkan oleh bakteri patogen ‘Flexibacter columnaris’, adalah penyakit yang banyak menyerang ikan air tawar dan memiliki distribusi di seluruh dunia. Strain virulensi rendah bakteri patogen untuk menjadi salmonids pada suhu air melebihi 20 ° C, sedangkan strain virulensi tinggi mungkin patogen pada suhu di atas 15 ° C. Tingkat mortalitas berkisar dari ca 10 sampai 100% tergantung pada suhu air.
  •  Mikroba gram negatif  mempunyai ketahanan yang lebih baik terhadap senyawa antimikroba. Mikroba gram negatif memiliki sistem seleksi terhadap zat-zat asing yaitu pada lapisan lipopolisakarida. Struktur dinding sel mikroba gram negatif relatif lebih kompleks, berlapis tiga yaitu lapisan luar yang berupa lipoprotein, lapisan tengah yang berupa lipopolisakarida dan lapisan dalam berupa peptidoglikan.
  •  Gejala-gejala klinis antara lain terjadinya peradangan kulit disertai dengan bintik-bintik putih kecil pada sirip ekor dan selanjutnya meluas ke arah kepala. Sirip ekor dan sirip anal dapat mengalami erosi berat dan kulit akan mengalami borok-borok bewarna putih keruh atau kelabu. Pada umumnya insang mengalami kerusakan yang ditandai dengan nekrosis pada ujung distal lamella insang dan dapat meluas kesuluruh lamellae insang.
  •  Infeksi F. colimnaris seringkali terkait dengan kondisi stress yang umumnya ditimbulkan oleh suhu air tinggi (25-32oC), padat tebaran tinggi, luka dan kualitas air buruk (kandungan oksigen rendah dan peningkatan ammonia bebas).

 3.2  Saran

  Dalam usaha budidaya untuk menghindari serangan pathogen bakteri F.columnaris maka pembudidaya harus mengetahui dan memahami tentang bakteri tersebut, terlebih suhu.


DAFTAR PUSTAKA

 Akinyemi, A dan Olufemi Paul F. 2011. Antibiotics Sensitivity and Occurrence of Bacteria Originated from Skin, Gill and Buccal Cavity of Chrysicthys nigrodigitatus, Distichodus engycephalus and Synodontis schall Sampled in Arakanga Reservoir, Abeokuta, Ogun State, Nigeria. Journal of FisheriesSciences. Vol 5 No 2 : 164-171.

 Bernardet, J.F. 1989. ‘Flexibacter columnaris’: first description in France and comparison with bacterial strains from othser origins. Diseases of Aquatic Organisms. Vol 6 : 37-44.

 Kismiyati, Sri Subekti, R. Wahid Nur Yusuf dan Rahayu Kusdarwati . 2009. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Gram Negatif pada Luka Ikan Maskoki (Carassius auratus0 akibat Infestasi Ektoparasit Argulus sp.  Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 1 No. 2.

Irianto, A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gadjah Mada University Press.

 Nofiani, R dan Gusrizal. 2004. Bakteri Resisten Merkuri Spektrum Sempit dari Daerah Bekas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Mandor, Kalimantan Barat. Jurnal Natur Indonesia. Vol 6 No 2 : 67-74.

Purwani, E, Setyo Wulang Nur Hapsari dan Rusdin Rauf. 2009. Respon Hambatan Bakteri Gram Positif dan Negatif pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang Diawetkan dengan Ekstrak Jahe (Zingiber officinale). Jurnal Kesehatan ISSN 1979-7621.  Vol. 2 No 1 halaman 61-70.

 

MAKALAH : KEGUNAAN BAHAN NABATI PADA KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN

1. PENDAHULUAN

 1.1  Latar Belakang

Sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu sumber andalan dalam pembangunan perikanan di Indonesia. Produksi dari perikanan budidaya sendiri secara keseluruhan diproyeksikan meningkat. Untuk mencapai target produksi sesuai dengan yang diharapkan, berbagai permasalahan menghambat upaya peningkatan produksi tersebut, antara lain kegagalan produksi akibat serangan wabah penyakit ikan yang bersifat patogenik baik dari golongan parasit, jamur, bakteri, dan virus. Permasalahan lainnya adalah degradasi mutu lingkungan budidaya yang semakin buruk, yang disebabkan oleh kegiatan budidaya itu sendiri maupun dari luar lingkungan budidaya. Timbulnya serangan wabah penyakit tersebut pada dasarnya sebagai akibat terjadinya gangguan keseimbangan dan interaksi antara ikan, lingkungan yang tidak menguntungkan ikan dan berkembangnya patogen penyebab penyakit. Kemungkinan lainnya adalah adanya atau masuknya agen penyakit ikan obligat yang ganas (virulen) meskipun kondisi lingkungannya relatif baik.

Untuk mengatasi permasalahan akibat serangan agen patogenik pada ikan, para petani maupun pengusaha ikan banyak menggunakan berbagai bahan-bahan kimia maupun antibiotika dalam pengendalian penyakit tersebut. Namun dilain pihak pemakaian bahan kimia dan antibiotik secara terus menerus dengan dosis/konsentrasi yang kurang/tidak tepat, akan menimbulkan masalah baru berupa meningkatnya resistensi mikroorganisme terhadap bahan tersebut. Selain itu, masalah lainnya adalah bahaya yang ditimbulkan terhadap lingkungan sekitarnya, ikan yang bersangkutan, dan manusia yang mengonsumsinya. Berkaitan dengan permasalahan tersebut, perlu ada alternatif bahan obat yang lebih aman yang dapat digunakan dalam pengendalian penyakit ikan. Salah satu alternatifnya adalah dengan menggunakan tumbuhan obat tradisional yang bersifat anti parasit, anti jamur, anti bakteri, dan anti viral. Beberapa keuntungan menggunakan tumbuhan obat tradisional antara lain relatif lebih aman, mudah diperoleh, murah, tidak menimbulkan resistensi, dan relatif tidak berbahaya terhadap ingkungan sekitarnya.

Menurut Nuryati et al., (2008), upaya pencegahan dan pengobatan yang lazim dilakukan pada ikan-ikan yang terkena penyakit mikotik adalah menggunakan obat-obatan kimia seperti malachite green, formalin, hidrogen peroxida, dan sebagainya. Akan tetapi penggunaan bahan kimia cenderung tidak ramah lingkungan dan ada yang bersifat karsinogenik. Seiring dengan adanya kecenderungan yang memperhatikan masalah keamanan pangan dan lingkungan maka diharapkan adanya metode pencegahan penyakit mikotik yang bersifat aman bagi pembudidaya, ramah lingkungan dan murah.

 1.2   Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini :

  1. Apa saja jenis – jenis dan kandungan dari bahan nabati ?
  2. Apa kegunaan bahan nabati bagi kesehatan ikan ?
  3. Apa kegunaan bahan nabati bagi lingkungan ?

1.3     Tujuan Makalah

          Adapun tujuan dari makalah yang kami buat :

  1. Untuk mengetahui jenis – jenis dan kandungan dari bahan nabati
  2. Untuk mengetahui kegunaan bahan nabati bagi kesehatan ikan
  3. Untuk mengetahui kegunaan bahan nabati bagi lingkungan
  1. PEMBAHASAN

 2.1        Jenis-jenis dan Kandungan dari Bahan Nabati

Menurut Selviana et al., (2009), tanaman lengkuas termasuk jenis tanaman yang mudah tumbuh dimana saja, sehingga mudah didapatkan, tersedia melimpah dan harga relative murah. Lengkuas selain digunakan sebagai penyedap makanan juga untuk mengatasi gangguan lambung, menetralkan keracunan makanan dan lain-lain. Akan tetapi khasiat lengkuas yang sudah dibuktikan secara ilmiah melalui berbagai penelitian adalah sebagai anti jamur.

Menurut Kurnia et al., (2012), tanaman pepaya merupakan tanaman herbal yang populer di kalangan masyarakat. Dalam pengobatan tradisional, bagian tanaman pepaya banyak yang dimanfaatkan. Daun pepaya mengandung enzim papain, alkaloid karpain, pseudo karpain, glikosida, karposid, dan saponin. Alkaloid daun papaya dapat berfungsi sebagai insektisida.

Menurut Yunus et al., (2009), rumput laut Halimeda opuntia mengandung senyawa polifenolik atau flavonoid yang terdiri dari quercitrin, epigallocathecin, cathecol, hesperidin, miricetin dan morin. Epigallocathecin merupakan komponen penting yang digunakan sebagai aktivitas antioksidan. Penggunaan rumput laut Euceuma spinosum juga merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah sebagai bahan antimikroba. Senyawa fenol dan turunannya (flavonoid) merupakan salah satu antibakteri yang bekerja dengan mengganggu fungsi membran sitoplasma. Adanya senyawa fenol ini menyebabkan perusakan pada membran sitoplasma. Ion H+ dari senyawa fenol dan turunannya (flavonoid) akan menyerang gugus polar (gugus fosfat) sehingga molekul fosfolipida pada dinding sel bakteri akan terurai menjadi gliserol, asam karboksilat dan asam fosfat. Fosfolipida tidak mampu mempertahankan bentuk membrane sitoplasma akibatnya membran sitoplasma akan bocor dan bakteri akan mengalami hambatan pertumbuhan bahkan kematian. Flanovoid mencegah pembentukan energy pada membran sitoplasma dan menghambat motilitas bakteri, yang juga berperan dalam aksi antimicrobial.

Menurut Nuryati et al., (2008), di Indonesia, fitofarmaka sudah sangat dikenal terutama untuk pengobatan manusia, namun belum dimanfaatkan dalam budidaya ikan. Beberapa jenis fitofarmaka dapat dicobakan untuk pengobatan penyakit ikan, karena merupakan bahan alami yang mudah hancur sehingga aman dan ramah lingkungan. Diantaranya adalah penggunaan tanaman paci-paci Leucas sp. dalam pencegahan penyakit mikotik. Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat diperoleh informasi ilmiah mengenai paci-paci terkait dengan efek pencegahan terhadap serangan cendawan pada ikan gurame. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala klinis dan karakteristik serangan cendawan Saprolegnia sp. dan kemudian mengetahui pengaruh ekstrak daun paci-paci dalam mencegah serangan cendawan tersebut pada berbagai dosis yang diberikan.

2.2        Kegunaan Bahan Nabati pada Kesehatan

Menurut Kurnia et al., (2012), lama perendaman yang optimal perasan daun pepaya (C. papaya) menggunakan konsentrasi 3,3% sebagai pengendali Argulus pada ikan komet (C. auratus auratus) adalah 18 menit.

Menurut Kris et al., (2009), lengkuas memiliki potensi untuk menyembuhkan penyakit jamur pada ikan, dalam penelitian konsentrasi LC50 untuk konsentrasi lengkuas terhadap ikan lais (Kryptopterus macrocephalus) adalah 55,59 (45,77-65,41) mg/L dan konsentrasi yang tepat untuk mengatasi penyakit jamur pada ikan ini adalah 30,29 mg/L dengan presentase kesembuhan maksimal sebesar 91,3%.

Menurut Selviana et al., (2009), saat uji LC50 untuk konsentrsi ekstrak lengkuas terhadap ikan nila (Oreochromis niloticus) ukuran 5-8 cm adalah 397,51 mg/L dengan kisaran (295,469 – 499,551) mg/L dan konsentrasi yang digunakan untuk mengatasi penyakit jamur pada ikan ini adalah 91,39 mg/L dengan masa pemeliharaan ikan selama 7 hari menunjukkan SR hanya mencapai 73,3%.

Menurut Nuryati et al., (2008), cendawan Saprolegnia sp. merupakan cendawan eksternal yang bersif oportunis yang dapat menginfeksi gurame dengan tanda-tanda klinis yaitu terdapat koloni cendawan berupa benang-benang putih di sekitar permukaan kulit yang terinfeksi dan di sekitar daerah infeksi terdapat lingkaran merah yang menunjukkan terjadinya hemoragi. Secara deskriptif, ekstrak paci-paci (dosis 0,5; 1,0 dan 1,5 g/l) dapat mencegah serangan Saprolegnia sp.

Menurut Yunus et al., (2009), rumput laut spesies Eucheuma spinosum diharapkan berfungsi sebagai zat antibakteri yang mampu mengontrol pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophila. Ekstrak rumput laut Eusheuma spinosum terbukti mampu berperan sebagai antibakteri terhadap bakteri Aeromonas hydrophila yaitu bersifat bakteriostatik pada konsentrasi 3%, 6% dan 9%, serta bersifat bakteriosidal pada konsentrasi 12%. Senyawa bioaktif mampu berperan sebagai anti bakteri/bakteriosidal dengan konsentrasi efektif 12%.

 2.3        Kegunaan Bahan Nabati pada Lingkungan

Menurut Kurnia et al., (2012), penggunaan insektisida sintesis dalam mengatasi permasalahan akibat serangan parasit pada ikan terutama yang disebabkan oleh Argulus masih banyak digunakan. Namun dilain pihak kebanyakan insektisida sintesis memiliki sifat non spesifik, yaitu tak hanya membunuh jasad sasaran tetapi juga membunuh organism lain. Penggunaan insektisida sintesis dapat menimbulkan dampak negatif seperti resistensi dan residu. Oleh karena itu penggunaan insektisida sintesis tidak boleh berlebihan atau tidak boleh digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga tidak menimbulkan resistensi yang dapat menyulitkan dalam pengendalian ektoparasit berikutnya. Berkaitan dengan masih banyaknya penggunaan insektisida sintesis, perlu ada alternatif bahan obat yang lebih aman yang dapat digunakan dalam pengendalian penyakit parasit ikan. Salah satu alternatifnya adalah dengan menggunakan tumbuhan obat yang bersifat anti parasit. Beberapa keuntungan menggunakan tumbuhan obat antara lain relatif lebih aman, mudah diperoleh, murah, tidak menimbulkan resistensi, dan relatif tidak berbahaya terhadap lingkungan sekitarnya. Tumbuhan obat itu salah satunya adalah daun papaya.

Menurut Nuryati et al., (2008), penggunaan fitofarmaka yang mulai menjadi perhatian dunia sekarang ini merupakan salah satu alternatif pengobatan yang ramah lingkungan. Di Indonesia, fitofarmaka sudah sangat dikenal terutama untuk pengobatan manusia, namun belum dimanfaatkan dalam budidaya ikan. Beberapa jenis fitofarmaka dapat dicobakan untuk pengobatan penyakit ikan, karena merupakan bahan alami yang mudah hancur sehingga aman dan ramah lingkungan. Diantaranya adalah penggunaan tanaman paci-paci Leucas sp. dalam pencegahan penyakit mikotik.

Menurut Yunus et al., (2009), berbeda dengan obat-obatan maupun senyawa antibakteri seperti antibiotik, obat-obatan yang berasal dari alam, seperti rumput laut belum memiliki standart daya hambat yang dibakukan. Pada penelitian ini belum dapat dilakukan penggolongan tingkat sensitifitas dan resistensi Aeromonas hydrophila terhadap ekstrak rumput laut. Namun dari hasil penelitian dapat member informasi bahwa konsentrasi ekstrak rumput laut yang berbeda mempengaruhi diameter daerah hambatan yang terbentuk.

  1. PENUTUP

3.1        Kesimpulan

Dari makalah ini dapat ditarik kesimpulan yaitu sebagai berikut:

  • Untuk mengatasi permasalahan akibat serangan agen patogenik pada ikan, para petani maupun pengusaha ikan banyak menggunakan berbagai bahan-bahan kimia maupun antibiotika dalam pengendalian penyakit tersebut. Namun dilain pihak pemakaian bahan kimia dan antibiotik secara terus menerus dengan dosis/konsentrasi yang kurang/tidak tepat, akan menimbulkan masalah baru berupa meningkatnya resistensi mikroorganisme terhadap bahan tersebut. Selain itu, masalah lainnya adalah bahaya yang ditimbulkan terhadap lingkungan
  • Maka dari itu diperlukan bahan-bahan nabati atau alami yang dapat mencegah timbulnya resistensi di lingkungan. Bahan-bahan yang dimaksud antara lain rumpu laut, daun papaya, lengkuas dan daun paci-paci. Setiap bahan tersebut memiliki fungsi dan kegunaan tersendiri.

3.2        Saran

Sebaiknya diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan bahan nabati atau bahan alami alternatif lainnya yang dapat digunakan dalam budidaya ikan yang ramah lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Kris, B., Ardianor dan Berkat. 2009. Penentuan Konsentrasi Tepat Tanaman Obat Lengkuas (Alpinia galangal) dalam Mengatasi Penyakit Jamur pada Ikan Lais (Kryptopterus macrocephalus) yang Didomestikasi. Journal of Tropical Fisheries. Vol 4 No 2 hal 397-407.

Kurnia, S. I., Kismiyati dan Kusnoto. 2012. Lama Perendaman Ikan Komet (Carassius auratus auratus) dalam Perasan Daun Pepaya (Carica papaya) Sebagai Pengendali Argulus Control. Journal Of Aquaculture and Fish Health. Vol 1 no 1.

Nuryati,S., Suparman dan Hadiroseyani. 2008.  Penggunaan Ekstrak Daun Paci – Paci  Leucas sp. Untuk Pencegahan Penyakit Mikotik pada Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac. Jurnal Akuakultur Indonesia. Vol 7 No 2 hal 205–212.

Selviana E., Tutwuri H. dan Lilia. 2009. Penentuan Konsentrasi Lengkuas (Alpinia galangal) untuk Mengatasi Penyakit Jamur pada Ikan Nila (O. Niloticus). Journal of Tropical Fisheries. Vol 4 No 2 hal 431-441.

Yunus, Apri Arisandi, dan Indah Wahyuni Abida. 2009. Daya Hambat Ekstrak Metanol Rumput Laut (Euchema spinosum) terhadap Bakteri Aeromonas hydrophila. Jurnal Kelautan. Volume 2 No.2 hal 16-24 ISSN : 1907-9931.

Vitelogenesis

Secara alamiah proses vitelogenesis memerlukan interaksi factor eksternal dan internal. Faktor eksternal yang mempengaruhi vitelogenesis antara lain temperatur, naik turunnya permukaan air, curah hujan, debit air, feromon, dan pakan. Pakan induk yang dapat mempengaruhi vitelogenesis adalah pakan yang berkualitas, yaitu pakan yang mengandung protein, lemak, vitamin E, vitamin C, dan mineral yang sesuai dengan kebutuhan ikan sebagai bahan pembentuk vitelogenin. Faktor internal adalah ketersediaan hormon-hormon steroid, gonad terutama estradiol-17_ dalam tingkat yang dapat merangsang vitelogenesis.

Sintesis vitelogenin (prekursor kuning telur) di dalam hati disebut vitelogenesis. Vitelogenin diangkut dalam darah menuju oosit, lalu diserap secara selektif dan disimpan sebagai kuning telur. Vitelogenin ini berupa glikofosfoprotein yang mengandung kira-kira 20% lemak, terutama fosfolipid, trigliserida, lipoprotein, dan kolesterol. Berat molekul vitelogenin untuk beberapa jenis ikan diketahui antara 140- 220 kDa (Tyler 1991; Komatsu dan Hayashi 1997). Proses oogenesis pada teleost terdiri atas dua fase, yaitu pertumbuhan oosit (vitelogenesis) dan pematangan oosit. Vitelogenesis merupakan aspek penting dalam

pertumbuhan oosit yang meliputi rangkaian proses (1) adanya sirkulasi estrogen (estradiol-17) dalam darah menggertak hati untuk mensintesis dan mensekresikan vitelogenin yang merupakan prekursor protein kuning telur; (2) vitelogenin diedarkan menuju lapisan permukaan oosit yang sedang tumbuh; (3) secara selektif, vitelogenin akan ditangkap oleh reseptor dalam endositosis, dan (4) terjadi translokasi sitoplasma membentuk badan kuning telur bersamaan dengan pembelahan proteolitik dari vitelogenin menjadi subunit lipoprotein kuning telur, lipovitelin, dan fosvitin. Adanya vitelogenin menunjukkan terjadinya akumulasi lipoprotein kuning telur di dalam oosit. Pada beberapa jenis ikan selama pertumbuhan oosit terjadi peningkatan Indeks Somatik Gonad (IGS) 1 sampai 20% atau lebih. Pada ikan betina, ovari berespons terhadap peningkatan konsentrasi gonadotropin dengan meningkatkan secara tidak langsung produksi estrogen, yakni estradiol-17 (E2). Estradiol-17beredar menuju hati, memasuki jaringan dengan cara difusi dan secara spesifik merangsang sintesis vitelogenin (Ng dan Idler 1983). Aktivitas vitelogenesis ini menyebabkan nilai indeks hepatosomatik (IHS) dan indeks gonadosomatik (IGS) ikan meningkat (Cerda et al. 1996).

Pembesaran oosit disebabkan terutama oleh penimbunan kuning telur. Seperti pada kebanyakan ikan, kuning telur merupakan komponen penting oosit ikan Teleostei. Ada tiga tipe material kuning telur pada ikan Teleostei: butiran kecil minyak, gelembung kuning telur (yolk vesicle) dan butiran kuning telur (yolk globule). Secara umum, butiran kecil minyak yang kita kenal dengan lipid yang berantai panjang (asam lemak tidak jenuh) pertama kali muncul di daerah perinuklear dan kemudian berpindah ke periferi (tepi sel) pada tahap selanjutnya. Urutan kemunculan material kuning telur bervariasi antarspesies. Pada rainbow trout, butiran kecil muncul segera setelah dimulainya pembentukan gelembung kuning telur (Yamamoto et al. 1965 dalam Nagahama 1983).

Fenomena penimbunan material kuning telur oleh oosit ikan dibagi menjadi dua fase, yakni sintesis kuning telur di dalam oosit atau vitelogenesis endogen dan penimbunan prekursor (bahan pembentuk) kuning telur yang disintesis di luar oosit atau vitelogenesis eksogen (Matty 1985). Gelembung kuning telur positif-PAS (mukopolisakarida atau glikoprotein) umumnya merupakan struktur yang pertama muncul dalam sitoplasma oosit selama pertumbuhan sekunder oosit, dan pertama kali muncul di zona terluar dan zona midkortikal pada oosit. Ketika vitelogenesis berlangsung, sebagian besar sitoplasma telur matang ditempati oleh banyak gelembung kuning telur yang padat dengan asam lemak dan

dikelilingi oleh selapis membran pembatas. Selama tahap akhir vitelogenesis, globula kuning telur beberapa ikan Teleostei bergabung satu sama lain membentuk masa tunggal kuning telur. Perkembangan gonad ikan betina terdiri atas beberapa tingkat yang dapat didasarkan atas pengamatan secara mikroskopis dan makroskopis. Secara mikroskopis perkembangan telur diamati untuk menilai perkembangan ovarium antara lain tebal dinding indung telur, keadaan pembuluh darah, inti butiran minyak, dan kuning telur. Secara makroskopis perkembangan ovarium ditentukan dengan mengamati warna indung telur, ukuran butiran telur, dan volume rongga perut ikan. Pada ovarium ikan terdapat bakal sel telur yang dilindungi suatu jaringan pengikat yang bagian luarnya dilapisi peritoneum dan bagian dalamnya dilapisi epitelium. Sebagian dari sel-sel epitelium akan membesar dan berisi nukleus, yang kemudian butiran ini kelak akan menjadi telur. Selama perkembangannya, ukuran oosit akan bervariasi. Pada tahap perkembangan awal, oogonia terlihat masih sangat kecil, berbentuk bulat dengan inti sel yang sangat besar dibandingkan dengan sitoplasmanya. Oogonia terlihat berkelompok tapi kadang-kadang ada juga yang berbentuk tunggal. Sementara itu oogonia terus membelah diri dengan cara mitosis. Pada ikan yang mempunyai siklus reproduksi tahunan atau tengah tahunan akan terlihat adanya

puncak-puncak pembelahan oogonia. Pada ikan yang memijah sepanjang tahun, perbanyakan oogonia akan terus menerus sepanjang tahun. Transformasi oogonia menjadi oosit primer banyak terjadi pada tahap pertumbuhan yang ditandai dengan munculnya kromosom. Segera setelah itu, folikel berubah bentuk, dari semula yang berbentuk skuamosa menjadi berbentuk kapsul oosit. Inti sel terletak pada bagian sentral dibungkus oleh lapisan sitoplasma yang tipis. Pada perkembangan selanjutnya, oosit membentuk lapisan korion, membran, granulosa, membran, dan teka. Juga butir-butir lemak mulai terlihat ditumpuk pada sitoplasma dan bersamaan dengan itu muncul cortical alveoli. Pada saat ini, ketersediaan vitamin C mutlak diperlukan karena dengan peningkatan kadar asam lemak, kebutuhan vitamin C semakin meningkat pula. Vitamin C dapat mencegah terjadinya oksidasi pada unitunit asam lemak, terutama asam lemak tidak jenuh (Machlin 1990). Butir-butir lemak ini selanjutnya akan bertambah besar pada vitelogenesis yang diawali dengan pembentukan vakuola-vakuola yang kemudian diikuti dengan munculnya globula kuning telur, bersamaan dengan itu oosit membengkak secara menyolok. Kuning telur pada ikan terdiri atas fosfoprotein dan lipoprotein yang dihasilkan oleh hati kemudian disalurkan ke dalam peredaran darah.

Sumber : Sinjal, Hengky J. 2007. Kajian Penampilan Reproduksi Ikan Lele (Clarias gariepinus) betina melalui Penambahan  Ascorbyl Phosphate Magnesium Sebagai Sumber Vitamin C pada Pakan dan Implantasi Estradiol-17β. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/40522/Cover_2007hjs.pdf?sequence=1

KODE ETIK PERIKANAN YANG BERTANGGUNG JAWAB

Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF), 1995
Untuk mencegah terjadinya penangkapan berlebih, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah menetapkan suatu kode etik perikanan yang bertanggung  jawab, Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF). Dalam kode etik, ditentukan prinsip-prinsip standar tingkah laku internasional tentang praktek-praktek yang bertanggung jawab terkait  dengan (termasuk) usaha penangkapan ikan. Walaupun bersifat sukarela, ketentuan dalam kode etik bersifat global, ditujukan bagi negara, pemerintah maupun non-pemerintah dan seluruh pihak swasta perikanan baik yang menjadi anggota maupun bukan anggota PBB.  CCRF diadopsi sejak tanggal 31 Oktober 1995, dan termasukkategori soft law. Dengan demikian Pemerintah Indonesia tidak merasa perlu untuk menetapkan peraturan khusus dalam meratifikasi CCRF.
Seluruh aturan dalam CCRF ditujukan untuk membantu negara-negara pantai di dunia dalam membangun dan mengembangkan perikanan, dengan dasar pemanfaatan berkelanjutan dari sumber daya perikanan.  CCRF menjelaskan bagaimana perikanan harus diatur secara bertanggungjawab, dan bagaimana kegiatan perikanan  harus diterapkan sesuai dengan peraturan nasional masing-masing negara. Walaupun tidak menyebutkan Kawasan Konservasi Perairan secara khusus,  CCRF memandang konservasi sebagai salah satu pendekatan  yang sangat penting dalam pengelolaan perikanan.  CCRF menyebutkan kata konservasi sampai 70 kali, dalam pendekatan pemanfaatan sumber daya perikanan berkelanjutan. Beberapa ketentuan konservasi tersebut antara lain, ialah:
• Para pihak dan pengguna sumber daya ikan harus melakukan tindakan konservasi terhadap ekosistem perairan (laut). Hak menangkap ikan harus diikuti dengan kewajiban untuk melakukan konservasi dan pengelolaan sumber daya perairan secara efektif.
• Pengelolaan perikanan harus mampu mempertahankan kualitas, diversitas dan ketersediaan sumber daya ikan bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Langkah-langkah pengelolaan tidak hanya ditujukan pada konservasi ikan-ikan yang menjadi target penangkapan, tapi juga spesies lain yang menempati ekosistem yang sama dan ikan lain yang tergantung dari keberadaan ikan target.
• Setiap negara yang terlibat dalam penangkapan ikan di laut harus melakukan prinsip atau pendekatan kehati-hatian dalam konservasi, pengelolaan dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya ikan sesuai dengan informasi terbaik yang tersedia saat itu. Namun kurangnya informasi ilmiah ini tidak dijadikan alasan untuk menunda langkah-langkah konservasi terhadap spesies target.
• Semua jenis habitat penting untuk perikanan, seperti lahan basah, bakau, terumbu karang, tempat pembesaran dan pemijahan ikan harus dilindungi dan  direhabilitasi. Pengelola perikanan harus mengambil langkah-langkah yang penting untuk melindungi habitat tersebut dari perusakan, degradasi, polusi dan dampak lain yang disebabkan oleh aktifitas manusia, yang bisa menurunkan kesehatan (viabilitas) sumber daya ikan.
• Setiap negara, harus  mengintegrasikan kepentingan perikanan tangkap, termasuk kebutuhan untuk konservasi sumber daya perikanan, dalam rencana pengelolaan wilayah pesisir terpadu.
• Keragaman hayati pada habitat dan ekosistem perairan harus dikonservasi, ikan yang terancam punah harus dilindungi.
Konsep pengelolaan perikanan berdasarkan Code of Conduct for Responsible Fisheries dalam pelaksaannya di Indonesia sebagian telah diterapkan dengan beberapa penyesuaian. Sebab di Indonesia pengelolaan perikanan adalah multidimensi, tidak hanya melibatkan aspek social ekonomi tetapi juga masyarakat nelayan. Unsur yang utama dalam konsep CCRF adalah Negara dan masyarakat nelayan bersama-sama mengelola perikanan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Dalam pelaksanaan dibutuhkan pengawasan yang optimal dari Negara agar dapat menjamin konservasi dan mengadakan tindakan-tindakan pengaturan yang tepat bagi penangkapan ikan di semua perairan Indonesia. Tanggung jawab Negara berguna untuk pemeliharaan jenis ikan bermigrasi jauh agar dapat berkelanjutan di masa depan.

HUBUNGAN GEN, KROMOSOM DAN DNA

  • GEN

            Gen adalah bagian kromosom atau salah satu kesatuan kimia (DNA) dalam kromosom, yaitu dalam lokus yang mengendalikan ciri genetis suatu makhluk hidup. Gen diwariskan oleh satu individu kepada keturunannya melalui suatu proses reproduksi. Dengan demikian, informasi yang menjaga keutuhan bentuk dan fungsi kehidupan suatu organisme dapat terjaga. Gen terdapat berpasangan dalam satu lokus pada kromosom homolog. masing-masing gen dalam pasangan itu disebut alel. Kedua alel dapat membawa ciri sifat yang sama atau berbeda, misalnya sifat tangkai panjang dan tangkai
pendek (Desrizal, 2012). Pengertian Gen (gene) itu sendiri adalah unit dasar dari hereditas, yang terletak pada kromosom (chromosome), yaitu suatu struktur yang bentuknya seperti tongkat dan terletak ditengah-tengah (nucleus) setiap sel tubuh. GEN merupakan “substansi hereditas” yang terletak di dalam kromosom, yang memilik sifat-sifat: Sebagai materi tersendiri yang terdapat dalam kromosom, Mengandung informasi genetika dan Dapat menduplikasikan diri pada peristiwa pembelahan sel (Arti, 2011).

  • KROMOSOM

            Kromosom adalah suatu struktur makromolekul yang berisi DNA di mana informasi genetik dalam sel disimpan. Kata kromosom berasal dari kata khroma yang berarti warna dan soma yang berarti badan Kromosom terdiri atas dua bagian, yaitu sentromer / kinekthor yang merupakan pusat kromosom berbentuk bulat dan lengan kromosom yang mengandung kromonema & gen berjumlah dua buah (sepasang)(Godam, 2008).  Kromosom adalah pembawa gen yang terdapat di dalam inti sel (nukleus). Kromosom terdiri dari DNA, RNA (asam ribo nukleat) dan protein. Kromosom homolog (2n) adalah kromosom yang terdapat berpasangan dan memiliki struktur dan komposisi yang sama. sel yang memiliki 2n kromosom (kromosom homolog) disebut sel diploid. Bila tidak berpasangan kromosom diberi simbol n kromosom. Sel dengan n kromosom adalah sel haploid, misalnya sel kelamin jantan saja atau sel kelamin betina saja (Desrizal, 2012).

  • DNA

            Asam deoksiribonukleat, lebih dikenal dengan DNA merupakan sejenis asam nukleat yang tergolong biomolekul utama penyusun berat kering setiap organisme. Di dalam sel, DNA umumnya terletak di dalam inti sel.

DNA merupakan polimer yang terdiri dari tiga komponen utama

  1. gugus fosfat
  2. gula deoksiribosa
  3. basa nitrogen, yang terdiri dari:
    • Adenina (A)
    • Guanina (G)
    • Sitosina (C)
    • Timina (T)

Rangka utama untai DNA terdiri dari gugus fosfat dan gula yang berselang-seling. Gula pada DNA adalah gula pentosa (berkarbon lima), yaitu 2-deoksiribosa. Dua gugus gula terhubung dengan fosfat melalui ikatan fosfodiester antara atom karbon ketiga pada cincin satu gula dan atom karbon kelima pada gula lainnya. Salah satu perbedaan utama DNA dan RNA adalah gula penyusunnya; gula RNA adalah ribosa (Desrizal, 2012).

  • HUBUNGAN GEN DENGAN DNA

       Menurut Bowo (2010), secara substansi sesungguhnya gen merupakan sepenggal DNA yang diseliputi dan diikat oleh protein, serta berfungsi sebagai zarah penentu sifat organisme. Selain itu gen bersifat antara lain :

1) Sebagai suatu materi tersendiri yang terdapat dalam kromosom.
2) Mengandung informasi genetika./ sifat herediter.
3) Mengatur perkembangan dan proses metabolism individu.
4) Dapat menduplikasikan diri pada peristiwa pembelahan sel

  • HUBUNGAN GEN DENGAN KROMOSOM 

          Kromosom mengandung DNA. Total keseluruhan informasi genetik yang disimpan didalam kromosom disebut genom. Genom DNA tersusun atas gen-gen. satu gen mengandung satu unit informasi mengenai suatu sifat yang dapat diamati. Gen juga dianggap sebagai fragmen DNA didalam kromosom (Bio, 2012).

  • HUBUNGAN GEN, KROMOSOM DAN DNA

            Bagian utama sebuah sel adalah nukleus, di dalam nukleus terdapat benang-benang halus yang disebut kromatin. Pada saat sel akan mulai membelah diri, benang-benang halus tersebut menebal, memendek dan mudah menyerab warna membentuk kromosom. Kromosom adalah struktur padat yang terdiri dari dua komponen molekul, yaitu DNA dan protein. Secara struktural perubahan DNA dan protein menjadi kromosom di awali pada saat profase. Molekul DNA akan berikatan dengan protein histon dan nonhiston membentuk sejumlah nukleosom. Unit-unit nukleosom bergabung memadat membentuk benang yang lebih padat dan terpilin menjadi lipatan-lipatan solenoid. Lipatan solenoid tersusun padat menjadi benang-benang kromatin. Benang-benang kromatin akan tersusun memadat membentuk lengan kromatin. Selanjutnya kromatin akan mengganda membentuk kromosom.

DAFTAR PUSTAKA
Arti. 2011. Pengertian Gen. http://www.untukku.com/artikel-untukku/pengertian-gen-untukku.html
Bio. 2012. Hubungan Gen dengan Kromosom. http://bioclub.multiply.com/journal/item/4
Bowo. 2010. Kromosom. http://bowo.staff.fkip.uns.ac.id/files/2010/01/KROMOSOM-for-akper.pdf
Desrizal. 2012. Pengertian DNA GEN dan KROMOSOM. http://blog.codingwear.com/bacaan-114-Pengertian-DNA,-Gen-dan-Kromosom.html
Godam. 2008. Pengertian Kromosom. http://organisasi.org/pengertian-kromosom-jumlah-kromosom-pada-manusia-hewan-dan-tumbuhan
Ilmu. 2012. Hubungan Gen Kromosom dan DNA. http://www.ilmuku.com/file.php/1/Simulasi/mp_413/materi1.html